Indonesia   |    English   

Dana proyek rehabilitasi Citarum Rp1,2 triliun

http://www.bisnis.com/articles/dana-proyek-rehabilitasi-citarum-rp1-2-triliun

Oleh Mia Chitra Dinisari

Bisnis Indonesia. Rabu, 09 November 2011

Pekerjaan fisik rehabilitasi dilaksanakan oleh enam kontraktor BUMN yakni Wijaya Karya, Waskita Karya, Abipraya Brantas, PT Pembangunan Perumahan, dan Nindya Karya KSO.

Adapun paket pekerjaan yang dilaksanakan terdiri dari lima paket yakni rehabilitasi prasarana pengendali banjir sungai Citarum Hilit Walahar-Muara Gembong di Kabupaten Bekasi sepanjang 17,3 kilometer. Kedua rehabilitasi prasarana pengendali banjir sungai Citarum Hilir Walahar-Muara Gembong Kabupaten Karawang sepanjang 42,6km.

Selanjutnya rehabilitasi prasarana pengendali banjir sungai Citarum Hilir Walahar-Muara Gembong di Bendung Walahar sepanjang 65,15 km, dan rehabilitasi prasarana pengendali banjir sungao Citarum-Hilir Bendungan Jatiluhur-Curug di Purwakarta dan Karawang sepanjang 9,5 km.

Serta paket terakhir yakni rehabilitasi prasarana pengendali banji sungai Citarum Hulu dari Sapan-Nanjung dan anak sungai Citarum sepanjang 45 km.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan alokasi anggaran rehabilitasi itu berasal dari APBN murni dengan skema pembiayaan multiyears.

Menurutnya, kegiatan rehabilitasi dilakukan untuk menjadikan kawasan sungai Citarum menjadi sungai yang sehat sekaligus mengurangi dampak penyebab banjir dikawasan tersebut.

"Dengan adanya rehabilitasi ini diharapkan nanti setelah 2013 ada peningkatan kapasitas daya tampung sungai Citarum, sehingga jika curah hujan tinggi tidak meluap dan menyebabkan banjir di sekitarnya," ujarnya hari ini.

Dia menjelaskan peningkatan kualitas sungai yang melintasi wilayah Jawa Barat itu juga diperlukan karena sebanyak 25 juta penduduk umumnya mengandalkan dari keberadaan sungai tersebut, dimana 15 juta penduduk diantaranya tinggal di sepanjang Citarum yang memiliki panjang 12.000 km2.

Kebutuhan akan pendanan pemulihan sungai Citarum sendiri, katanya, setidaknya membutuhkan anggaran sebesar Rp35 triliun selama 15 tahun kedepan.

Dengan kata lain, setiap tahunnya pemerintah harus mengalokasikan anggaran Rp2,1 triliun untuk pemenuhannya.

Rencana program dan kegiatan hingga 2015 itu adalah konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan di daerah sepanjang sungai (DAS), pengawasan, penertiban dan penegakan hukum, penanganan darurat di daerah rawan banjir, dan pembuatan area evakuasi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

Kemudian, relokasi perumahan daerah rawan banjir, perbaikan sistem drainase, penanganan banjir Citarum bagian hulu, pembangunan waduk-waduk kecil dan polder di cekungan Bandung, penanganan banjir Citarum bagian hilir, dan revitalisasi perumahan dan pemukiman.

Tarum barat
Karena itu, lanjutnya, selain untuk anggaran rehabilitasi sungai, Kementerian PU juga mengalokasikan anggaran yang ditujukan untuk kegiatan a.l rehabilitasi sepanjang tarum barat, rehabilitasi waduk Juanda Jatiluhur, pengendalian banjir di area anak sungai Citarum, dan rehabilitasi irigasi Jatiluhur.

"Kami juga akan mempertimbangkan usulan dari Provinsi Jawa Barat untuk membangun dua polder guna mengendalikan banjir yakni polder di Cineuteung dan di Cikapundung Kolot Kabupaten Bandung," tambahnya.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PU Mohammad Amron mengatakan penanganan sungai di Citarum setiap tahunnya memang membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Untuk tahun ini saja, khusus wilayah Citarum di SDA dialokasikan anggaran penanganan dan perbaikan serta pemeliharaan sebesar Rp1,2 triliun.

Hal tersebut, katanya, karena panjangnya aliran sungai, dan juga kondisinya yang sudah cukup buruk untuk kategori sungai besar di Indonesia. "Yang perlu diperhatikan juga sebenarnya peran serta masyarakat dalam menjalingkungannya. Karena saat ini jumlah hunian di sepanjang DAS sangat banyak," ujarnya.

Sungai Citarum merupakan sungai dengan DAS terbesar di Porvinsi Jawa Barat, dengan tingkat curah hujan tahunan sebesar 2,385mm. Sementara itu, potensi pemanfaatan air sebanyak 13 miliar m3/tahun.

Hingga saat ini sudah sebanyak 57,9% diantaranya dimanfaarkan diantaranya untuk air perkitaan, industri, irigiasi, dan keperluan air minum di Jakarta. (bsi)