Pelatihan Mitigasi Banjir
Sungai Citarum banjir sudah biasa, terutama di daerah-daerah "langganan" seperti Dayeuh Kolot, Bale Endah dan sekitarnya. Apalagi jika musim hujan tiba.
Masyarakat di daerah-daerah rawan banjir tersebut meski sudah terbiasa mengantisipasi kejadian banjir, namun tetap pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan banjir ini perlu terus ditingkatkan. Hal ini yang melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) menyelenggarakan pelatihan mitigasi banjir. Pelatihan ini diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 20-21 Juni 2011 berlokasi di Jatinangor Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai komunitas yang tergabung dalam Perhimpunan Kelompok Kerja (PKK DAS Citarum), perwakilan masyarakat tingkat RT dan RW di Bale Endah, Dayeuh Kolot, Ranca Ekek hingga Sumedang.
Satuan Brimob Polda Jawa Barat, menjadi pelatih kegiatan ini. Materi pelatihan meliputi teori dan praktek, misalnya cara mengevakuasi korban dengan aman, memasang tenda dan mendirikan dapur umum, memasang, menggunakan dan membongkar perahu dengan benar.
"Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan"
Apin Junaedi dari satuan Brimob Polda Jawa Barat, yang menjadi salah satu pelatih, ketika ditemui di lokasi pelatihan di Unpad Jatinangor (22/6/11) mengatakan bahwa sering terjadi ketika banjir terjadi, logistik sudah diturunkan ke lapangan, tetapi akhirnya sering terbengkalai karena kurang memahami cara menangani logistik tersebut.
"Saya salut dengan masyarakat. Mereka itu jiwa sosial dan semangatnya tinggi sekali. Kalau banjir, mereka malah menyelamatkan orang lain dulu, baru keluarganya. Nah, itu yang harus diperhatikan. Bagaimana kita pertama memahami tehnik-tehnik penyelamatan, diri sendiri dulu, baru bisa bantu orang lain" kata Apin.
Di Brimob sendiri ada semboyan "Jiwa Ragaku Untuk Kemanusiaan", yang mengharuskan anggotanya harus selalu siap membantu dalam keadaan dan kondisi apapun ketika bencana.
"BBWSC ingin membantu masyarakat sukarelawan yang berada di titik lokasi banjir Citarum untuk lebih mahir dan siap dalam menghadapi musim banjir. Persiapan ini mulai dari peringatan dini hingga setidaknya mengetahui dasar evakuasi warga" kata Yayat Yuliana, kepala Operasi dan Pemeliharaan BBWSC.
Idealnya, pelatihan mitigasi ini untuk dasar saja butuh waktu 3 bulan. Meskipun demikian, dalam dua hari ini, masyarakat mendapatkan pelatihan yang paling dasar yang akan berguna untuk digunakan pada saat banjir menerjang di daerah masing-masing.
"Meski singkat, tapi saya merasa pelatihan ini berguna dan dapat membantu tugas saya sebagai ketua RW ketika banjir. Terutama untuk evakuasi dan logistik" kata Muhammad Yahya, ketua RW 28 Kecamatan Baleendah.
(Teks dan Foto: Diella Dachlan)

