Indonesia   |    English   

Sungai Citarum Riwayatmu Dulu

Pos Kota, 05 Mei 2011

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/05/05/sungai-citarum-riwayatmu-dulu

SUNGAI Citarum tempo dulu, merupakan satu-satunya pilihan untuk jalur lalu lintas bagi kelancaran kegiatan perdagangan, pemerintah dan lain-lain. Sungai Citarum berada di Wilayah Kerajaan Pajajaran, merupakan sebagai penerus kerajaan Tarumanegara yang memerintah pada abad VIII.

Di Karawang terdapat pelabuhan yang merupakan salah satu pelabuhan penting Kerajaan Pajajaran, seperti halnya pelabuhan Banten, Tanggerang, Sunda Kelapa dan Bekasi. Dari Pelabuhan Karawang ramai diperdagangan barang dagangan ke Pelabuhan Sunda Kelapa, seperti madu, ikan kering dan hasil pertanian yang banyak dibeli oleh para pedagang Portugis.

Pentingnya peranan pelabuhan di Karawang, bukan saja pada masa pemerintahan Pajajaran dari abad VIII sampai abad XVI M, yakni hampir 800 tahun, akan tetapi sampai juga masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang telah mengangkat Bupati Karawang pertama Adipati Singaperbangsa dan Aria Wirasaba.

Bahkan sampai berakhirnya masa pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang. Pelabuhan Karawang mempunyai dua tempat pemberhentian . Untuk perahu yang datang dari arah Pataruman atau Laut Jawa berlabuh di Kampung Teluk Bunut.

Sedangkan untuk perahu yang datang dari arah Cikao, berlabuh di Kampung Nagasari Jebug. Perahu pedagang ini tidak mau menelusuri Kali Citarum yang melingkari kampung Poponcol. Selain jaraknya cukup jauh yaitu hampir lima Km, juga pada masa itu airnya deras dan banyak batu cadas.

Sedangkan jika berhenti di pelabuhan KampungTeluk Bunut dan Nagasari, antara kedua tempat berlabuh itu jaraknya cukup dekat dan hanya memerlukan jalan penghubung sepanjang kira-kira 400 meter.

JALUR PENYEBARAN ISLAM

Pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dengan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu ikut serta Syeh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam dikesultanan Malaka, sebab Syeh Hasanuddin adalah putra Ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syeh Yusuf Siddik.

Syeh Yusuf Siddik , masih ada garis keturunan dengan Syeh Jamaluddin serta Syeh Jalaluddin Ulama besar Mekah.

Bahkan menurut sumber lain garis keturunannya sampai kepada Syaidina Husein bin Syaidina Ali ra, menantu Rosulullah saw. Syeh Hasanuddin yang belakangan dikenal sebagai Syeh Qurotulain tersebut, datang dengan dua perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk satu santri wanita bernama Nyi Subang Karancang yang kemudian menikah dengan Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.

Setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Sungai Citarum yang ramai dilayari oleh Perahu pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran.

Selesai menyusuri Sungai Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang kemudian Syeh Hasanuddin di tempat itu mendirikan Musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal, di lokasi Mushola tersebut sekarang berdiri bangunan Mesjid Agung Karawang.

Sayang, itu semua tinggal kenangan. Sekarang kondisi Sungai Citarum memprihatinkan. Bahkan termasuk sungan terjorok di dunia. Airnya keruh dan tercemar limbah. Ah riwatmu dulu! (nourkinan/B)