Stop BAB Sembarangan: Pelatihan Fasilitator Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan, sebagai salah satu Project Implementation Unit (PIU) dari Integrated Citarum Water Resources & Investment Program (ICWRMIP) melakukan Training of Trainers (ToT) untuk 25 fasilitator kesehatan pada tanggal 5 - 7 Juli 2010. Untuk pelatihan ini, topiknya adalah Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Pelatihan 3 hari diikuti oleh 25 peserta dari Dinas Kesehatan, Bappeda, unsur PKK dari Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Kota Bekasi. Ada pula peserta yang berasal dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang. Pelatihan ini dilaksanakan di Karawang, menggabungkan teori dan praktek lapang. Praktek lapangan dilakukan di desa Kutamekar, Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang.
Di Indonesia, masih banyak warga yang tidak memiliki kamar mandi dan melakukan kegiatan mandi, cuci dan kakus langsung di sungai. Hal ini juga ikut menyumbang pencemaran bagi sungai. Banyak warga di desa-desa di sepanjang aliran Sungai Citarum yang masih menjadikan Sungai Citarum ini sebagai tempat sampah dan tempat kegiatan mandi dan cuci, termasuk buang air pun dilakukan langsung di sungai.
Menurut Pak Tri Susanto, Sekretaris Eksekutif program ICWRMIP Kementerian Kesehatan, pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan sub-proyek komponen 2.3 dari ICWRMIP yaitu Support for Community and CSO Driver Initiatives for Improved Water Supply and Sanitation.
“Untuk tahapan saat ini yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, program akan dilakukan di lima desa di Karawang dan Bekasi. Tetapi tahapan berikutnya, akan dilakukan di 9 kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat, yang dilewati oleh Sungai Citarum” Pak Santo menjelaskan. “Fokusnya lebih kepada pemicuan kepedulian yang diharapkan dapat merubah perilaku-perilaku sanitasi yang kurang baik seperti buang air besar sembarangan di sungai”.
Menurut Bapak Wahanudin atau yang akrab dipanggil Pak Udin, dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat, bukan lagi pendekatan penyuluhan. Namun sekarang ini lebih kepada pemicuan, motivasi dan masyarakat-lah yang mengidentifikasi dan menganalisa masalahnya tersendiri. Tak jarang masyarakat sendirilah yang menemukan solusi dari permasalahannya. “Tugas kita sekarang ini lebih banyak sebagai fasilitator, mendampingi dan memicu kesadaran”.
Teknik-teknik pendampingan dari Community-Led Total Sanitation (CLTS) atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang baru dikembangkan di Indonesia sejak tahun 2004. Pendekatannya yaitu dengan memfasilitasi melalui proses membangkitkan (inspiring) dan memberdayakan (empowering) masyarakat lokal untuk menganalisis profil sanitasi mereka sendiri, meliputi luas buang air besar di sembarang tempat, sebaran kontaminasi fecal-oral yang mempengaruhi dan mengganggu di masyarakat serta menginisiasi aksi lokal kolektif untuk bebas dari buang air di sembarang tempat.
Menurut Pak Udin, yang menjadi tantangan tersendiri di dalam melakukan pendekatan dalam CLTS ini adalah kebiasaan lama para pekerja di bidang kesehatan yang terbiasa “menyuluh”.
“Padahal pendekatan ini sifatnya menggali pengetahuan dan kebiasaan masyarakat, kita yang belajar banyak pada masyarakat” kata Pak Udin.
Jika sebuah desa seluruh warganya tidak lagi buang air besar sembarangan, maka desa tersebut bisa dengan bangga mendeklarasikan desanya sebagai desa yang bebas dari praktek buang air besar sembarangan. Dan hal ini merupakan suatu pencapaian bersama seluruh warga desa tersebut.
