Kotoran Sapi Dibuang Sayang
“Ayo ikut saya ke kandang” Ajak Pak Agus, petani pupuk kandang di desa Wanasari, dengan ramah. Di belakang rumahnya terdapat kandang sapi. Ada 4 ekor sapi di dalam kandang. “Dulunya saya buang disini kotoran sapinya, tinggal dialirkan ke selokan ini langsung ke danau itu”.
Pak Agus menjelaskan “Satu ekor sapi menghasilkan 15 kilogram kotoran setiap harinya. Jadi kalau di kandang saya saja sudah ada 60 kilogram kotoran setiap harinya”
Padahal ada ratusan kandang sapi di daerah Pengalengan. Bertahun-tahun kotoran sapi itu langsung dibuang ke danau. Tak heran jika dalam waktu singkat, terjadi pencemaran kualitas air danau dan juga pendangkalan.
“Saya mulai usaha pupuk sejak tahun 2007, setelah bertemu dengan Pak Didin Rosidin. Saya ikut pelatihan pembuatan kompos. Termasuk juga pembuatan pupuk kompos dari cangkang kopi.” Cerita Pak Agus. Pak Agus mulai mengumpulkan kotoran sapi dari kandangnya, juga kandang-kandang sapi milik tetangganya. Sekitar 40 kg kotoran sapi harganya Rp 3,000.
Dari pelatihan itu pula, pak Agus mengetahui bahwa dalam pembuatan pupuk kandang juga dibutuhkan proses fermentasi sebelum pupuk dapat digunakan. Fermentasi kotoran sekitar beberapa minggu dengan menggunakan campuran urea dan kapur. 1 ton pupuk kandang hanya membutuhkan sekitar 2 kg urea.
Usaha saya ini pelan-pelan saja. Tapi Alhamdulillah, sekarang ada 12 pekerja di sini dan saya sudah kontrak dengan pabrik 100 ton per bulan” Kata Pak Agus.
Sekarang Pak Agus tidak lagi membuang kotoran sapi dari kandangnya langsung ke danau. “Kotoran sapi kalau dibuang sayang, karena kalau diolah sedikit saja, sudah bisa jadi penghasilan yang lumayan”. Air danau pun tidak lagi tercemar oleh kotoran sapi. (Diella Dachlan/Photo: Veronica Wijaya/Dok.Cita-Citarum)
Download: Kotoran Sapi Dibuang Sayang (PDF, 695 KB)
Untuk Artikel dan Laporan lengkap, silahkan download: Dari Lahan Kritis Menjadi Lahan Ekonomis, PDF 16 MB
