Indonesia   |    English   

Menyelamatkan Lahan, Mendatangkan Keuntungan

Siapapun yang berkunjung ke Danau Cileunca dan Cipanunjang di daerah Pengalengan Jawa Barat, akan setuju jika daerah ini memiliki pesona alam yang memikat dengan udara yang sejuk dan hamparan perbukitan. Danau yang cukup luas ini, selain indah dan cocok untuk tempat berwisata, airnya pun dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Meski dikelilingi oleh lereng-lereng bukit dan pemandangan yang indah, namun jika dicermati lebih dalam, lereng-lereng bukit yang sebagian besar ditanami sayuran ini sesungguhnya tidaklah terlalu ramah bagi lingkungan, termasuk bagi kedua danau yang ada di sana.

Mengapa demikian? kegiatan menanam dan usaha tani sayuran dan hortikultura di lereng-lereng bukit ini sedikit banyak menyumbang dan mendorong terjadinya erosi dan sedimentasi pada Danau Cileunca dan Cipanunjang. “Sayuran ini meski menghasilkan bagi masyarakat, ternyata cara pengolahannya yang kurang baik malah mengakibatkan berkurangnya debit air di danau tersebut. Danaunya jadi dangkal.” Kata Pak Pak Edi Mulyadi Kepala Desa Margaluyu. “Disini sering terjadi longsor, karena tanahnya erosi”.

Kualitas air danau ini pun diperburuk oleh kotoran ternak sapi yang selama bertahun-tahun dibuang langsung ke danau. Selain itu penanaman sayuran di lereng bukit dan penggunaan obat-obatan kimia dalam jangka waktu panjang mengakibatkan terkikisnya tanah, sehingga terjadi erosi dan longsor yang juga masuk ke dalam danau. (banyak pertanian yang dilakukan di seputar danau). Debit air danau di musim kemarau semakin berkurang lagi karena penyedotan air untuk menyiram tanaman sayuran. Jika rata-rata satu hektar tanaman kentang membutuhkan sekitar 25,000 liter setiap harinya, maka debit air yang berkurang ini juga dapat mempengaruhi pasokan listrik yang tenaga pembangkitnya menggunakan tenaga air. Hal ini-lah yang dialami oleh PLTA Plengan di Pengalengan.

“Masyarakat di sekitar sini sudah turun temurun bertanam sayuran” Kata Didin Rosidin, Fasilitator Lapangan di Desa Warnasari. “Ketika ada pendekatan ke masyarakat untuk beralih tanam dari sayuran ke tanaman keras, seringkali malah penolakan yang terjadi karena alas an ekonomi”. Didin menjelaskan bahwa sayuran relatif cepat berproduksi dan menghasilkan, sementara tanaman keras lama berproduksi atau malah tidak ada nilai ekonominya bagi masyarakat.
“Hal ini yang mungkin dapat menjelaskan mengapa kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh Indonesia Power sebelumnya tidak terlalu berhasil.

Tanamannya diganti lagi dengan tanaman sayuran” Cerita Didin. Namun, untungnya PT Indonesia Power tidak berhenti sampai di situ. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Indonesia Power melakukan kegiatan pendampingan dan penanaman tumpang sari di beberapa desa  seperti desa Warnasari, Pulosari, Sukaluyu, Margamekar dan Margaluyu di kawasan seputaran danau Cileunca dan Cipanunjang. Kawasan Pengalengan juga termasuk di dalam hulu DAS Sungai Citarum.

Program ini bernama “Langkah Aksi PLN Peduli Bersama Masyarakat Dalam Menangani Lahan Kritis”. Bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB), PLN dan dibantu oleh fasilitator lapangan, maka dibuatlah kegiatan pengkajian terhadap kondisi atau karakteristik lokal dengan pendekatan berbasis masyarakat setempat. Sehingga dapat terpetakan potensi, kendala dan harapan-harapan masyarakat. “Selain mendapatkan gambaran dan pemetaan kondisi dari situasi setempat, hal ini juga mulai menjadi sinkronisasi antara PT Indonesia Power dengan masyarakat untuk mulai memelihara kualitas dan kuantitas danau dan sama-sama menguntungkan” Didin memaparkan. Proses pengkajian dan pemetaan ini dilakukan pada bulan Juni 2007.

Dari pengkajian dan penggalian bersama masyarakat pun didapat pula informasi sejarah desa itu, misalnya di desa Warnasari. Masyarakat menceritakan bahwa tahun 1930-1980 lahan hutan masihlah sangat baik, ketersediaan air cukup dan tidak ada masalah dengan kekeringan. Sektor peternakan mulai berkembang dan mencapai puncaknya di desa Warnasari dan di Pengalengan pada umumnya yaitu periode 1960-1980. Sedangkan kegiatan pertanian terus meningkat sejak tahun 1960 hingga sekarang. Kekeringan di danau mulai terjadi pada tahun 1965, dan longsor terjadi pada tahun 1985 yang sempat membuat beberapa ruas jalan terputus. Permasalahan lingkungan yang mengakibatkan kerugian semakin sering terjadi pada dua dasa warsa terakhir ini.

Dari pemetaan ini pun didapatlah informasi bahwa masyarakat menginginkan adanya kerjasama yang jelas dan adil antara PT Indonesia Power dan masyarakat, adanya pola pembimbingan yang intensif dari pendamping atau dinas terkait mengenai teknik bertani yang efektif, pembagian hasil yang jelas dan menguntungkan dan lain sebagainya.

Tahapan akhir dari pelaksanaan pengkajian desa ini adalah membuat rencana desa secara partisipatif, antara masyarakat, PT Indonesia Power dan LPPM IPB dibantu oleh para fasilitator lapangan.

“Yang penting petani dan PLN sama-sama diuntungkan. Pada tahun 2008 dimulai penanaman tumpang sari antara tanaman kopi dengan tanaman lainnya.“ Cerita Pak Edi Mulyadi Kepala Desa Margaluyu.

“Dari tanam hingga panen sekarang, petani sudah mulai merasakan hasilnya. Kalau di kampung kami, kopi ditanam 2.5 tahun sudah bisa dipanen.sedangkan tomat, kol, cabe dan terong yang ditanam tumpangsari dengan kopi bisa dipanen sekitar 3-4 bulan” Kata Pak Agus petani dari desa Margaluyu.

“Sekarang ini belum ada kendala berarti”. “Belum ada hama, panennya bagus, masyarakatnya mulai ngerti. Mudah-mudahan ke depannya bisa bagus terus begini” Kata Pak Agus berharap.

Pada bulan Mei 2010 ini, petani di seputar Danau Cileunca dan Cipanunjang menyambut gembira panen raya. Bersamaan dengan panennya sayuran, biji kopi sudah banyak yang berwarna kemerahan, tanda siap dipetik. (Diella Dachlan/Photo: Veronica Wijaya/Dok.Cita-Citarum)

Download: Menyelamatkan Lahan, Mendatangkan Keuntungan (PDF, 1.1 MB)
Untuk Artikel dan Laporan lengkap, silahkan download: Dari Lahan Kritis Menjadi Lahan Ekonomis, PDF 16 MB