Indonesia   |    English   

Legenda Sangkuriang, Selaras Peristiwa Alam

Gunung Tangkubanparahu ternyata tidak sekedar wujud sebuah gunungapi, namun tersimpan di lubuk hati dan fikiran masyarakatnya, yang setiap waktu dapat melihat gunung yang begitu fantastis dan magis. Segala gerik gunung ini, sejak dulu sudah mendapatkan perhatian yang luar biasa. Proses alam yang begitu panjang, terpantau oleh masyarakatnya dan terus diturunkan dari generasi ke generasi, diperbaiki dari periode ke periode. Proses alam sesungguhnya tidak terjadi tiba-tiba, namun menyiratkan banyak peringatan dan tanda-tanda.

Jauh sebelum ilmu kebumian modern lahir, jawaban akan peristiwa alam saat itu dirangkai dalam berbagai bentuk penyampaian, salahsatunya melalui bentuk yang sekarang dikenal sebagai legenda. Deskripsi bagaimana Danau Bandung Purba dibendung dan bagaimana Gunung Tangkubanparahu terbentuk, terangkum dalam Legenda Sang Kuriang. Itulah jawaban akan peristiwa alam saat itu. Legenda ini sudah sangat tua umurnya, sudah dikenal dan sangat populer di masyarakat pada abad ke 15/16, sehingga Bujangga Manik, tohaan, satria pengelana, pewaris tahta Pajajaran mencatat legenda itu saat melintas dalam perjalanan sucinya di pinggiran Cekungan Bandung tahun 1500-an. Bujangga Manik menulis:

Aku berjalan ke arah barat,
sampai ke Bukit Patenggeng,
situs purbakala Sang Kuriang,
tatkala akan membendung Ci Tarum,
gagal karena kesiangan….
(J. Noorduyn dan A. Teeuw, Tiga Pesona Sunda Kuna, Pustaka Jaya, 2009).

Yang menjadi luar biasa, karena legenda itu kronologinya sesuai dengan kronologi letusan Gunung Sunda, pembentukan Danau Bandung Purba, dan lahirnya Gunung Tangkubanparahu.
Para ahli kebumian modern sekaliber R.W. van Bemmelen (1949) dan J.A. Katili (1962) terpikat oleh legenda Sang Kuriang-Dayang Sumbi, sehingga fragmen legendanya dimasukan dalam buku dua ahli tersebut. Sejak tahun 1949, legenda itu menyebar di kalangan ahli geologi dunia, dan sejak tahun 1962, legenda itu dibaca oleh seluruh peserta kursus B1 Ilmu Bumi dari seluruh Indonesia, dan para ahli Geologi pada umumnya, karena buku yang semula diterbitkan oleh Balai Penataran Guru Bandung itu kemudian diterbitkan oleh Urusan Research Nasional.

 

Dalam legenda itu diuraikan:
Tahap pertama, Sang Kuriang menebang pohon lametang, roboh ke barat. Tunggulnya membentuk Bukit Tunggul, dan rangrangan, sisa dahan, ranting dan daunnya membentuk Gunung Burangrang. Batang pohon itu menjadi bakalan perahu yang akan dibuatnya. Pada tahap ini Gunung Burangrang dan Bukit Tunggul, hanyalah bagian kecil dari gunung besar, yaitu Gunung Sunda.

 

Tahap kedua, setelah pohon ditebang, Sang Kuriang membendung sungai, agar tergenang menjadi danau yang kelak akan dijadikan tempatnya berlayar memadu kasih dengan Dayang Sumbi. Pada tahap ini Gunung Sunda meletus, materialnya membendung Ci Tarum di utara Padalarang. Maka mulai tergenanglah Danau Bandung Purba.

 

 

 
Tahap ketiga, setelah sungai dibendung, Sang Kuriang segera membuat perahu. Danau sudah terbendung, airnya mulai tergenang, dan betapa girangnya Sang Kuriang. Fantasinya berlayar bersama Dayang Sumbi memberikan semangat untuk terus membuat perahu. Namun sebaliknya bagi Dayang Sumbi. Memberi tantangan untuk membuat danau dan perahu, sebenarnya hanyalah siasat agar pernikahan itu tidak terjadi, sebab Dayang Sumbi tahu, Sang Kuriang adalah putranya sendiri.

 

Segeralah Dayang Sumbi mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, dibungkusnya dengan kain putih hasilnya menenun, lalu dipotong-potong halus. Potongan itu ditaburkan ke arah timur sambil memanjatkan permohonan agar mendapatkan perlindungan.

 

 

Yang Maha Kuasa mengabulkan permohonannya, seketika itu di ufuk timur fajar menyingsing, cahaya membersit pertanda matahari akan segera terbit. Betapa leganya Dayang Sumbi. Namun tidak bagi Sang Kuriang yang sedang bekerja habis-habisan menyelesaikan perahunya. Begitu melihat fajar menyingsing, Sang Kuriang marah dan kesal tiada bandingannya. Karena gagal meminang pujaan hati, Sang Kuriang menendang perahu yang hampir rampung itu dengan perasaan gagal yang mendalam.

 

Terbaliklah perahu itu, jadilah Gunung Tangkubanparahu.

Pada tahap ketiga ini, ketika danau sudah tergenang, dari dalam kaldera Gunung Sunda terjadi gejolak aktivitas gunungapi. Terjadi letusan-letusan dari beberapa lubang kawah. Karena kawah-kawahnya berjajar barat-timur, itulah yang menyebabkan, rona gunung ini bila dilihat dari selatan dari Bandung, akan terlihat seperti perahu yang terbalik.

 

Tahap empat, melihat gelagat itu, segeralah Dayang Sumbi berlari ke arah timur. Secepat kilat Sang Kuriang mengejarnya. Di sebuah bukit kecil, hampir saja Dayang Sumbi tertangkap. Bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi disebut Gunung Putri.
Tahap empat ini bila dimaknai saat ini, inilah upaya penyelamatan, upaya mitigasi. Ketika ada gejolah gunungapi, janganlah berada di lembah yang akan dialiri lahar dengan pergerakannya yang sangat cepat. Carilah tempat yang berada di punggungan yang aman, yang tidak akan tersapu aliran lahar, terjangan awan panas dan hujan abu.
Sang Kuriang adalah tokoh pertama membendung sungai untuk keperluan rekreasi.

 
T. Bachtiar,
Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.