Indonesia   |    English   

CITARUM, SUNGAI LIMBAH

Wednesday, 25 November 2009 17:47 
Sumber : Harian Kompas, Rabu, 25 November 2009

Ancam Pasokan Listrik

Bandung, Kompas - Sungai Citarum yang membentang sepanjang 196 kilometer dari Jawa Barat hingga wilayah DKI Jakarta telah digolongkan sebagai sungai kelas D atau berkualitas setara dengan limbah. Kondisi itu diakibatkan pencemaran yang tinggi dari bahan kimia pertanian, limbah industri, dan sampah rumah tangga.

Ahli hidrologi kehutanan dari Universitas Padjadjaran Bandung, Chay Asdak, Selasa (24/11) di Bandung, mengatakan, zat-zat kimia dari lahan pertanian di bagian hulu Citarum terbawa ke sungai karena erosi saat hujan turun. Kurangnya kesadaran petani dengan membuat lahan pertanian terasering membuat laju erosi semakin besar.

"Sayur seperti kol, wortel, dan kentang adalah jenis tanaman yang kurang cocok ditanam di lahan terasering. Padahal, tanaman itu kebanyakan ditanam di kawasan hulu Citarum. Akibatnya, pestisida dan pupuk kimia yang dipakai di kawasan tersebut mudah terbawa erosi ke Citarum," kata Chay.

Pembuangan sampah ke sungai oleh warga juga menyumbang bagi penurunan kualitas air Citarum. Untuk itu, pemerintah harus aktif menyosialisasikan pembuangan sampah di lokasi yang seharusnya. "Prinsip pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), serta daur ulang (recycle) sampah harus digalakkan," ujarnya.

Penegakan hukum terhadap tindak pencemaran Sungai Citarum, lanjut Chay, perlu dilakukan pemerintah. Penegakan hukum terutama ditekankan pada pabrik yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah. Ancam listrik Kondisi air Citarum yang buruk juga mengancam pasokan listrik. General Manager PT Indonesia Power Sudibyanto mengatakan, buruknya kualitas air Citarum membuat sejumlah peralatan berbahan logam yang digunakan untuk operasionalisasi pembangkitan listrik mudah berkarat. Peralatan yang sering rusak karena korosi adalah pendingin generator listrik.

"Usia peralatan yang seharusnya delapan tahun kini hanya 4,5 tahun. Biaya operasional perusahaan pun meningkat 50 persen karena risiko peralatan yang rusak," katanya.

Pendangkalan karena erosi di Citarum juga berpotensi mengurangi pasokan air di waduk-waduk yang memanfaatkan air dari Citarum, yakni Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Usia pemanfaatan Waduk Saguling yang airnya dimanfaatkan PT Indonesia Power, misalnya, kini diperkirakan tinggal 25 tahun lagi atau hanya 50 tahun. Padahal, waduk yang dibangun pada 1985 itu didesain untuk bisa beroperasi selama 67 tahun.

Jika pasokan air kurang, empat turbin listrik yang dimiliki PT Indonesia Power tidak bisa beroperasi. Pasokan listrik sebesar 700 megawatt untuk area Jawa, Madura, dan Bali pun terancam berhenti.

Sudibyanto menambahkan, selain merugikan pasokan listrik, pendangkalan di waduk-waduk juga akan berdampak buruk bagi usaha pertanian warga. Lahan pertanian seluas 300.000 hektar di pantai utara Jabar, yang meliputi Cirebon, Majalengka, dan Indramayu, sepenuhnya bergantung pada aliran air irigasi dari ketiga waduk tersebut.

Manajer Senior Humas PT Indonesia Power Luthfi Hani menambahkan, pencemaran terbesar Citarum dilakukan pabrik yang dilintasi sungai. "Kami pernah mendapati pabrik tekstil yang terang-terangan mengalirkan limbah ke Citarum," ujarnya. (REK)