Indonesia   |    English   

Karawang Tantangan Si Lumbung Padi

Kabupaten Karawang bagi masyarakat Indonesia identik dengan produksi padinya.  Hingga tak mengherankan jika Karawang mendapat sebutan “lumbung padi” Jawa Barat, bahkan nasional.

Dari luas wilayah Kabupaten Karawang yaitu 1.753,27 kilometer persegi atau 175.327 hektar (sekitar 4 persen dari total luas wilayah Propinsi Jawa Barat), luas areal pertaniannya yaitu 94.311 hektar atau hampir separuhnya.

Kabupaten Karawang dilewati oleh Sungai Citarum, sungai terbesar dan terpanjang di Propinsi Jawa Barat ini, yang menjadi batas wilayah Kabupaten Karawang dan Bekasi. Sungai Citarum sangat penting keberadaannya bagi Kabupaten Karawang, karena hampir seluruh wilayah area pertanian Karawang mendapatkan sumber air dari sungai ini.

Tiga saluran irigasi yang airnya bersumber dari Sungai Citarum dialirkan melalui Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah, dan Saluran Induk Tarum Barat dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak dan pembangkit tenaga listrik. (Data Kabupaten Karawang).

Untuk irigasi, areal pertanian di Karawang yang merupakan wilayah areal sawah irigasi teknis yaitu seluas 83.021 hektar, 3.852 hektar sawah irigasi setengah teknis, 4.165 hektar sawah irigasi sederhana dan 3.273 hektar areal sawah tadah hujan. (Kompas, 27 Januari 2012, data Pemerintah Kab.Karawang).

Rata-rata produksi padi per hektar mencapai antara 6 bahkan hingga 9 ton per hektarnya. Pada tahun 2011, produksi gabah kering pungut yang dihasilkan oleh Kabupaten Karawang yaitu 1,435 juta ton, yang berasal dari dua musim tanam dalam setahun.

Dengan luasnya areal pertanian padi di Karawang, maka tak mengherankan jika sejauh mata memandang, mata akan dimanjakan oleh hamparan sawah hijau atau kekuningan jika menjelang panen.

Seberapa lama lagi pemandangan sawah menghampar ini bisa bertahan?

Dengan pertambahan penduduk yang pesat, lokasi Kabupaten Karawang yang relatif dekat dengan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bekasi dan Bogor, merupakan area potensial yang dilirik para investor untuk perkembangan wilayah, terutama untuk industri dan permukiman, yang membutuhkan area yang luas.

Data Dinas Pertanian Karawang menyebutkan, selama kurun waktu 18 tahun, yaitu antara tahun 1989 dan 2007, alih fungsi lahan teknis menjadi lahan pemukiman dan industri mencapai 2.578 hektar atau 135,6 hektare per tahun. Data tahun 2011 Dinas Pertanian dan Kehutanan Karawang bahkan menyebutkan bahwa alih fungsi lahan pertanian bahkan mencapai 181 hektar per tahun.

Wacana pembangunan pelabuhan laut dan pelabuhan udara di Karawang yang tentunya akan “memakan” puluhan ribuan hektar areal persawahan membuat pertanyaan baru, mampukah pemerintah mempertahankan keberadaan area pertanian untuk daerah lumbung padi ini?

Bupati Karawang, H. Ade Swara, mengatakan bahwa mencegah lajunya alih fungsi lahan di Karawang bukanlah pekerjaan mudah. “Sebagai pemerintah daerah, kami akan berupaya sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan Karawang sebagai daerah pertanian dan lumbung padi nasional”.

Alih fungsi lahan bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi oleh sektor pertanian di Kabupaten Karawang. Selama bertahun-tahun lahan pertanian menggunakan sarana produksi pertanian non-organik dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yang tentunya akan terus menurunkan tingkat kesuburan tanah.

Permasalahan lain adalah kualitas air Sungai Citarum yang buruk serta debit air irigasi yang menurun jika musim kemarau dan ancaman gagal panen akibat banjir jika musim hujan tiba, secara keseluruhan akan memberikan dampak terhadap produktivitas pertanian.

Dengan bayangan suram dan kerja keras yang diperlukan untuk menjadi petani, tidak sedikit pula para pemuda meninggalkan bidang pertanian karena dianggap kurang menjanjikan, dan lebih memilih bekerja di sektor industri atau bahkan pindah ke kota untuk mencari penghidupan yang dinilai lebih mudah dan layak.

Selalu ada dilema dalam setiap pembangunan, dan selalu akan ada jalan dalam setiap tantangan yang dihadapi. Semoga Kabupaten Karawang memiliki terobosan inovasi dan solusi didalam menghadapi dilema pembangunan ini.

Penulis: Diella Dachlan, Nancy Rosmarini/ Foto: Ng Swan Ti/Doc.Cita-Citarum

Artikel ini merupakan bagian dari Laporan Foto
Produksi Padi Meningkat, Air Lebih Hemat
http://www.citarum.org/upload/knowledge/document/SRI_Produksi_Padi_Menin...