Indonesia   |    English   

Mengunjungi Hulu Sungai Cidurian

Seperti apa mata air Sungai Cidurian? Pertanyaan ini terus melekat dalam benak kami ketika melihat kondisi sungai Cidurian yang melewati Kota Bandung yang alirannya dipenuhi oleh sampah.

Mengapa Sungai Cidurian? Karena menurut data BPLH Kota Bandung, sungai Cidurian merupakan sungai terpanjang ke-dua setelah Sungai Cikapundung, dari 46 sungai yang mengalir melintasi Kota Bandung. Dengan panjang 24,86 km, sungai Cidurian melintasi 16 kelurahan yang berada di Kota Bandung dan bermuara di Sungai Citarum di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Jika Sungai Cikapundung yang aliran di hulunya “terlindungi” oleh kawasan Taman Hutan Raya Juanda, lantas bagaimana dengan Sungai Cidurian? Adakah bagian dari sungai ini yang masih bersih dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih?

Berusaha menjawab keingintahuan tersebut, berbekal informasi dan penelusuran dari data peta yang ada, pencarian mata air Sungai Cidurian membawa kami pada daerah Padasuka di Kota Bandung menuju Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan yang masuk kedalam wilayah Kabupaten Bandung (23/04/13).

Perjalanan dengan mobil dari Kota Bandung ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam. Memasuki Desa Cimenyan, pemandangan padatnya permukiman Kota Bandung mulai digantikan dengan perkebunan sayur yang menghampar di lereng-lereng bukit dan hutan pinus.

Di hutan pinus ini beruntung kami bertemu dengan Jajang (47 tahun), Kepala Tanam Perhutani di Kampung Buntis, Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung. Beliau inilah yang kemudian mengantarkan kami melalui jalan pintas menuruni lembah dan lereng bukit untuk mencapai lokasi mata air Sungai Cidurian.

“Di lokasi ini Perhutani mengelola sekitar 2.000 hektar lahan” Kata Jajang yang memiliki 40 orang anak buah. “Jenis pohon yang ditanam antara lain Ekaliptus, Mahoni dan Pinus”. Menurut Jajang, mayoritas penduduk yang tinggal di seputar kawasan hutan ini adalah petani dan peternak. Penduduk datang ke hutan ini untuk mencari rumput bagi ternaknya.


Keterangan foto: Aliran Sungai Cidurian yang melintasi hutan pinus dan perkebunan kopi di Kampung Buntis, Desa Cimenyan, Kec.Cimenyan Kabupaten Bandung.

“Ini aliran Sungai Cidurian yang masih kecil” kata Jajang menunjukkan aliran kecil sangat jernih yang mengalir di sela perkebunan kopi. “Berbeda sekali ya sama Sungai Cidurian yang kita lihat di Kota Bandung” sambung beliau.

Bagi kami yang sudah terbiasa sehari-hari melihat Sungai Cidurian yang tak ubahnya seperti tempat sampah, maka aliran jernih kecil Sungai Cidurian di sisi lokasi yang berbeda ini membuat kami  tertegun. Nyaris tidak percaya kalau aliran air ini adalah aliran air sungai yang sama.

Pak Jajang membawa kami mendaki lereng bukit yang cukup rimbun ditumbuhi oleh pohon dan semak belukar. Di satu titik beliau berhenti dan menunjukkan dua buah bak penampung berukuran sekitar 2 x 3 meter, dimana air jernih mengalir dari pipa yang masuk ke dalam bak penampung tersebut.

“Ini mata air Sungai Cidurian. Kalau mau melihat air yang keluar dari tanah, kalian harus naik sedikit lagi 5 meter ke atas” kata Jajang. Di lokasi ini ada dua titik mata air yang keluar dari tanah yang berjarak kurang dari 10 meter antara satu titik dengan titik lainnya. Namun titik mata air yang masuk ke dalam bak penampung inilah yang disebut sebagai 0 kilometer Sungai Cidurian.


Keterangan foto: Jajang menunjukkan mata air Sungai Cidurian di Kampung Buntis, Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung (23/04/13).

Mencari Titik Awal Tercemar
Kami mengambil jalur yang berbeda untuk mencapai jalan utama. Tujuannya untuk mengukur berapa jauh jarak antara mata air ini dengan lokasi permukiman terdekat. Kampung terdekat dari mata air yaitu Kampung Buntis RW 14 yang dihuni oleh sekitar 150 KK, yang jaraknya kurang dari 2 kilometer dari lokasi mata air. Namun menurut  Usep Supriatna, warga RW 14 Kampung Buntis yang kami temui sedang mencari rumput untuk ternaknya, aliran Sungai Cidurian yang melewati kampungnya tidak dekat dengan permukiman. Sehingga di kampung ini penduduk tidak membuang sampah di aliran sungai.

Dari petunjuk dan informasi Usep aliran Sungai Cidurian yang dekat dengan permukiman ada di Kampung Balong yang juga masih berada dalam wilayah Desa Cimenyan dan terletak tidak jauh dari Kampung Buntis. Di Kampung Balong ini ada sekitar 4 rumah, namun yang dihuni hanya 2 rumah. Di lokasi ini terdapat kandang sapi yang terletak persis di samping aliran sungai Cidurian.

“Saya sudah sejak lahir berada di tempat ini” kata Sopandi (74 tahun) warga RT 2 RW 18 Kampung Balong, yang tinggal di rumah pertama bersama tiga puteranya. Meskipun kandang sapinya terletak persis di aliran Sungai Cidurian, Sopandi yang memiliki 6 ekor sapi ini mengaku tidak membuang kotoran sapi ke sungai. “Sayang kalau kotorannya dibuang, saya pakai kotoran sapi ini untuk dijadikan pupuk” kata Sopandi.

Dengan penjelasan Sopandi dan pengamatan langsung di lapangan, maka kesimpulan awal kami adalah permukiman pertama di Kampung Balong bukanlah merupakan titik awal dimana aliran Sungai Cidurian ini tercemar.

Potensi Tampungan Air
Dari pengamatan di lapangan, banyaknya selang air berwarna-warni yang berada di seputaran Kampung Buntis menunjukkan bahwa warga memanfaatkan sumber air dari aliran Sungai Cidurian untuk kebutuhan sehari-hari.

Di seputaran Kampung Buntis dan Kampung Balong, kami menemukan embung-embung dan lokasi-lokasi potensial yang jika dikeruk dan dibersihkan dari semak-semak yang kini tumbuh subur di atasnya, tentunya akan dapat menjadi tampungan air bersih yang dapat dijadikan sumber air bersih bagi warga sekitar.

Jika kawasan hulu Sungai Cidurian ini ditata, dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka bukannya tidak memungkinkan jika kawasan ini nantinya bisa berkembang menjadi sumber air bersih bagi warga sekitarnya dan menjadi lokasi wisata bagi warga kota yang tentunya dapat menikmati panorama alam yang mempesona di Kecamatan Cimenyan ini.

Tulisan: Diella Dachlan/Foto: Ng Swan Ti/Dok.Cita-Citarum