Indonesia   |    English   

Situs-situs penting dari Jaman Hindu-Buddha di DAS Ci Tarum

Situs-situs jaman Hindu-Buddha, khususnya dari masa kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 hingga abad ke-10) dan Kerajaan Sunda (abad ke-10 hingga abad ke-16), ditemukan di daerah Cekungan Bandung dan sepanjang DAS Citarum, mulai dari bagian hulunya di daerah Kabupaten Bandung hingga di bagian muaranya di daerah Kabupaten Karawang dan Bekasi. Beberapa situs penting dari jaman Hindu-Buddha tersebut di antaranya adalah (Djafar 2011; Widyastuti 2006).

a. Situs-situs di Kabupaten Bandung:
    (1) Situs Tenjolaya, Cicalengka: arca Durgā (batu).
    (2) Situs Cicalengka: arca Agastya (batu).
    (3) Situs Cibeet, Cicalengka: arca Gaṇeśa (batu).
    (4) Situs Ciparay: arca Śiwa Mahāguru (batu).
    (5) Situs Cibodas: arca Śiwa Mahādewa (batu).
    (6) Situs Pasir Manglayang, Ujungberung: arca Śiwa Mahādewa dan Nandi (batu).
    (7) Situs Pamoyanan, Ujungberung: arca Śiwa dan Durgā (batu).
    (8) Situs Bojongmaenje, Rancaekek: candi agama Hindu, fragmen arca Naṇḍi dan fragmen Yoni  (batu).
    (9) Situs Ciparay: arca Śiwa Mahāguru (batu).
    (10) Situs Leuwigajah, Cimahi: arca Gaṇeśa, Kuwera, Buddha, Awalokiteśwara, dan kinnarī (perunggu).

b. Situs-situs di Kabupaten Cianjur:
    (1) Situs Gunung Mananggil, Cikalong Kulon: arca Śiwa dan Durgā (batu).
    (2) Situs Gunung Beser, Pacet: arca Gaṇeśa dan Kāla (batu).

c. Situs-situs di Kabupaten Karawang:
    (1) Kawasan Situs Batujaya: di kawasan situs percandian Batujaya yang luasnya 5 km² terdapat lebih dari 30 sisa bangunan percandian agama Buddha, yang terbuat dari bata. Di kawasan situs Batujaya ditemukan pula: arca-arca kepala yang menggambarkan tokoh kedewataan dan binatang terbuat dari bahan stuko, dan tiga kaki fragmen arca perunggu. Ditemukan pula 4 lempeng kecil prasasti emas, 2 prasasti dituliskan pada bata, dan sebuah prasasti tertulis pada fragmen terakota. Prasasti-prasasti tersebut berisi ayat-ayat suci agama Buddha tentang karma yang ditulis dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta (abad ke-7/ke-8).
    (2) Kawasan situs Cibuaya: di kawasan situs ini semula diketahui ada 7 sisa-sisa bangunan candi bata agama Hindu. Kini hanya tinggal dua sisa bangunan yang masih ada, yaitu di Candi Cibuaya I (Candi Lemah Duwur Wadon) dan Candi Cibuaya II (Candi Lemah Duwur Lanang) yang memiliki sebuah lingga di atasnya. Selain sisa-sisa bangunan candi, di situs Cibuaya ditemukan pula tiga buah arca Wiṣṇu dari batu (2 utuh dan 1 fragmen).

5. Beberapa data sejarah yang berhubungan dengan pemanfaatan dan pelestarian lingkungan pada Jaman Hindu-Buddha.

Data kesejarahan tentang masalah keairan dan peranan sungai yang kita peroleh dari sumber-sumber tertulis berupa prasasti sangat sedikit. Oleh karena itu kita hampir tidak mengetahui bagaimana masalah pemanfaatan dan pengelolaan air, khususnya sungai, dilakukan dalam kehidupan masa perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha di Jawa Barat.  Demikian pula sumber-sumber naskah (filologi) dari masa Sunda Kuna tidak banyak memberikan embaran  tentang hal tersebut. Namun demikian dari sejumlah prasasti yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur kita memperoleh perbandingan gambaran itu yang terjadi pada masa-masa kerajaan Mataram hingga Majapahit. Data sejarah dari masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa memperlihatkan berbagai hubungan antara manusia dan lingkungan, dalam kaitannya dengan pemanfaatan lingkungan (sumber daya alam) dan usaha-usaha pelestariannya.

Prasasti masa kerajaan Tarumanagara.
Prasasti Tugu. Salah satu prasasti yang dibuat pada masa pemerintahan raja Pūrṇawarman dari kerajaan Tarumanagara adalah prasasti Tugu. Prasasti ini ditulis dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta, sekitar tahun 450. Isinya antara lain menyebutkan bahwa pada masa pemerintahannya yang ke-22 tahun raja Purnawarman telah menggali sebuah kanal sepanjang 6122 tumbak (kl. 11 km) untuk mengalirkan air dari Sungai Gomati ke laut. Disebutkan pula sebelumnya raja Purnawarman telah menggali kanal untuk mengalirkan air sungai Candrabhaga ke laut (Vogel 1925; Poerbatjaraka 1952).

Prasasti masa kerajaan Sunda.
(1) Prasasti Sanghyang Tapak.
Dalam dua prasasti batu Sanghyang Tapak dari daerah Sukabumi, yang dikeluarkan oleh raja Sunda (paduka haji i sunda) Maharaja Sri Jayabhupati tahun 1030, disebutkan adanya usaha-usaha untuk melestarikan lingkungan, khususnya sungai dan hutan. Dalam prasasti Sanghyang Tapak I disebutkan adanya pelarangan untuk mengganggu kelestarian sungai sehingga tidak diperbolehkan mengambil segala isi sungai yang ada di kawasan cagar Sanghyang Tapak (Djafar 1991).
(2) Prasasti Batutulis.
Dalam prasasti Batutulis, Bogor, yang berangka tahun “pañca pandawa nge(m)ban bumi” (= 1455 Saka/1533 Masehi) disebutkan jasa-jasa Sri Baduga Maharaja, raja kerajaan Sunda yang berkedudukan di ibukota Pakuan Pajajaran. Beliau telah berjasa membuat tanda peringatan (monumen) berupa “gugunungan”, membuat jalan yang diurug dengan batu (ngabalay), membuat hutan lindung (samida), dan membuat danau buatan sang hyang Talagawarna Mahawijaya (Djafar 2011).

Prasasti masa kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
(1) Prasasti-prasasti yang berkenaan dengan pengurusan air (sungai).
Sejumlah prasasti dari masa kerajaan Mataram menyebutkan adanya berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan air (sungai). Dalam prasasti Harinjing A (804) dari masa raja Dyah Balitung, prasasti Harinjing B (921) dari masa raja Dyah Tulodong, prasasti Bakalan (934) dari masa Mpu Sindok, dan Kalagyan (1037) dari masa raja Airlangga  disebutkan adanya usaha-usaha untuk pembuatan sarana keairan seperti pembuatan waduk (dawuhan), tambak atau bendungan (tamwak), saluran atau kanal (weluran), dan terowongan air (arung) untuk kepentingan pengairan dalam rangka peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat.

Untuk kepentingan pengelolaan keairan tersebut terdapat pula petugas-petugas keairan seperti hulu air (hulair) atau tuha bañu. Dalam beberapa prasasti dari masa Jawa Kuna disebutkan pula adanya kelembagaan sosioekonomik yang disebut hulaer karamān yaitu dewan pengelola keairan. Ada pula petugas yang disebut mpu tamwak, yaitu orang-orang yang ditugasi.

(2) Prasasti-prasasti yang kenaan dengan penyelenggaraan penyeberangan di sungai-sungai besar.
Dalam rangka memperlancar perhubungan dan arus lalu-lintas dalam bidang sosial ekonomi antar daerah, di beberapa sungai besar diadakan pengaturan penyeberangan menggunakan perahu yang tetapkan dengan keputusan raja. Prasasti-prasasti yang mengatur kegiatan penyeberangan ini antara lain prasasti Telang (Wonogiri) II dari tahun 904 yang dikeluarkan oleh raja Dyah Balitung, dan prasasti Canggu (Trawulan I) tahun 1358 yang dikeluarkan oleh raja Hayam Wuruk. Dalam prasasti Canggu  disebutkan  perintah untuk mengatur kegiatan penyeberangan di seluruh wilayah kerajaan (kumonakĕn ikanang anambangi sayawadwipa mandala) (Djafar 1978, 2012).

(3) Prasasti-prasasti yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan.
Sejumlah prasasti dari masa pemerintahan raja Rakai Kayuwangi, yaitu prasasti-prasasti: Tunahan (873), Jurungan (876), Haliwangbang (877), Mulak (878), Mamali (878), Kwak I (879), Taragal (880), menyebutkan jabatan birokrasi kerajaan yang bertugas mengawasi hutan. Petugas ini disebut dengan istilah Tuha Alas (Tuhālas) atau Katuhālasan. Pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung, jabatan kehutanan ini masih ada, namun disebutkan dengan istilah yang pasuk alas, yang secara harafiah berarti “pagar/batas hutan”. Nama jabatan ini disebutkan pula dalam beberapa prasastinya, antara lain dalam prasasti: Barsahan (908) dan Kaladi (909).

Bersamaan dengan penyebutan petugas tuha alas sering pula didapati petugas yang disebut tuha buru, yaitu petugas yang mengatur penyelenggaraan perburuan. Mungkin petugas ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya perburuan binatang-binatang di hutan secara tidak terkendali.

(4) Prasasti yang berkaitan dengan penanaman pohon (penghijauan).
Di situs Trawulan, Mojokerto, terdapat sebuah prasasti batu yang dikeluarkan pada tahun 1281, masa pemerintahan raja Singhasari Kertanagara. Prasasti ini memperingati kegiatan penanaman pohon bodhi (Ficus religiosa) pada tahun Saka 1203. Selengkapnya prasasti yang ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna itu berbunyi sebagai berikut: “pangadĕg ning boddhi i śaka 1203” (Djafar 209, 2012).

Walaupun mungkin kegiatan ini dilakukan dalam rangka keagamaan, namun ada pula kemungkinan  penanaman pohon bodhi itu dilakukan dalam rangka penghijauan di lingkungan area keagamaan, di sekitar percandian atau tempat-tempat peribadatan lainnya. Hal serupa pernah dikemukakan di dalam kitab Calon Arang dari masa raja Airlangga yang menyebutkan tentang adanya perintah Mpu Bharada kepada murid-muridnya untuk mengadakan penghijauan dengan menanam pohon angsoka, nagasati, gambir dan sebagainya di sekeliling pertapaan (Poerbatjaraka 1982).

Penutup
Penelaahan hubungan timbal balik antara mahluk hidup (manusia) dengan lingkungannya (ekosistem) adalah konsep sentral dalam ekologi (Sumarwoto 1983). Sungai sebagai subekosistem sangat berperan dalam kehidupan manusia sejak masa awal sejarahnya. Hubungan manusia dengan sungai tercermin dalam pola perilaku manusia. Pola perilaku kehidupan ini dapat diungkap melalui jejak masa lalunya berupa tinggalan arkeologi, antara lain tinggalan artefaktual dan pola-pola hunian. Berdasarkan persebaran temuan tinggalan-tinggalan arkeologi disuatu lingkungan ekologis dapat diungkapkan seberapa jauh hubungan yang ada antara pendukung kebudayaan material tersebut dengan lingkungannya. Pengamatan terhadap situs-situs hunian dapat mengungkapkan pula adanya berbagai pertimbangan ekologis. Kehidupan manusia pada Jaman Prasejarah dan Jaman Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Barat juga telah memperlihatkan kecenderungan kedekatannya terhadap alam. Persebaran berbagai jenis tinggalan arkeologi di daerah aliran Citarum merupakan bukti adanya jejak kehidupan manusia dan hubungannya dengan peranan Citarum di masa lampau.

Dalam masa-masa perjalanan sejarahnya Ci Tarum telah memberikan peranan dalam pembentukan kehidupan dan budaya masyarakat setempat. Sebaliknya, sepanjang masa itu pula Ci Tarum telah mengalami berbagai perlakuan dari masyarakat sekitarnya, berupa pemanfaatan maupun pelestariannnya.

Tulisan: Hasan Djafar Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta

Tulisan ini merupakan makalah Hasan Djafar yang berjudul Meneropong Kejayaan Citarum di Masa Lampau Ci Tarum Dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah Kebudayaan, yang dibawakan dalam Sesi Diskusi Mencermati Citarum dari Sisi Sejarah dan Sosial Budaya, Bandung 21 Februari 2013