Indonesia   |    English   

Akibat Kerusakan Daerah Tangkapan Air, Suplai Air ke Waduk Saguling Menurun Drastis

Selasa, 04 Oktober 2011

CIPATAT,(GM)-

Suplai air ke Waduk Saguling dalam satu bulan terakhir terus mengalami penurunan. Dalam keadaan normal, suplai air dari Sungai Citarum bisa mencapai 126 meter kubik/detik, namun sekarang tinggal 9 meter kubik/detik.

Untuk mengamankan elevasi atau tinggi muka air supaya tidak mencapai batas minimum yaitu 623 meter di atas permukaan laut (mdpl), PT Indonesia Power (IP) sempat melakukan hujan buatan di sepanjang Daerah Aliran sungai (DAS) Citarum mulai hulu sampai aliran Sungai Citarum yang menuju Waduk Cirata.

Direktur Produksi PT IP, Mustiko Buwono menyatakan, penurunan suplai air belum sampai menghentikan operasional PLTA Saguling. Pasalnya, sampai Senin (3/10), elevasi air masih jauh di atas batas minimum, yaitu 631,06 mdpl. Ketinggian muka airnya masih 8 meter di atas batas terendah.

"Sampai sekarang menurunnya in flow air belum memengaruhi operasional empat turbin PLTA Saguling. Hanya memang operasionalnya tidak bisa mengaktifkan seluruh turbin, sebab bisa menghabiskan banyak air. Terlepas dari persoalan itu, saya yakin elevasi bakal naik kembali karena sekarang sudah mulai memasuki pengujung musim kemarau," kata Mustiko di sela-sela acara ulang tahun ke-16 PT Indonesia Power di Kampung Cioray, Desa Rajamandala, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat (KBB), Senin (3/10).

Kerusakan di hulu

Menurutnya, supaya debit air Waduk Saguling tetap terjaga, PT IP sempat melakukan hujan buatan di DAS Citarum sampai Waduk Cirata. Namun hujan buatan itu tidak terlalu signifikan menaikKan debit air.

Ia mengatakan, penurunan suplai air yang masuk ke Waduk Saguling akibat terjadinya kerusakan di daerah tangkapan air. Kerusakan itu ditimbulkan oleh perubahan fungsi lahan. Daerah tangkapan air bagi Waduk Saguling, antara lain Gunung Wayang, Majalaya, Paseh, Kertasari, Pangalengan, dan Lembang.

Dijelaskannya, PLTA Saguling baru diaktifkan pada saat beban puncak yang biasa terjadi pada malam hari. Fungsi PLTA Saguling dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali, selain memikul beban puncak, berfungsi juga sebagai pengatur frekuensi sistem. Hal ini dimungkinkan dengan diterapkannya peralatan Load Frequency control (LFC) di PLTA Saguling.

"PLTA Saguling merupakan salah satu pembangkit listrik yang menyuplai listrik Jawa-Bali. Sehingga operasionalnya sangat tergatung kepada Pusat Pengatur dan Pengendali Beban (P3B). Pada saat curah hujan tinggi seperti tahun 2010, menjadi penyuplai listrik terbesar Jawa-Bali," tuturnya.

Dikatakannya, energi listrik yang dihasilkan PLTA Saguling disalurkan melalui gardu induk saluran ekstra tinggi (GITET) Saguling dan diinterkoneksikan ke sistem se-Jawa-Bali melalui saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET 500 KV). Selanjutnya disalurkan kepada konsumen melalui gardu distribusi.

Terus menurunnya suplai air ke Waduk Saguling menyebabkan sejumlah genangan waduk di Kecamatan Cihampelas, Padalarang. Cililin, dan Cipongkor berubah menjadi daratan. Lumpur dan sampah mengakibatkan dasar waduk meninggi. Berdasarkan data dari PT IP Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Saguling, sampah yang berhasil diangkut rata-rata 658 meter kubik/hari. Tiap tahunnya sampah domestik yang masuk sebanyak 250 ribu meter kubik. (B.104)**

www.klik-galamedia.com/indexnews.php