Indonesia   |    English   

Kaboepaten Bandoeng Tempo Doeloe, Mengalami Masa Pemerintahan Berbeda-beda

GALAMEDIA,

Rabu, 20 April 2011

KEKUASAAN yang dimiliki Sultan Agung Mataram di tanah Priangan, telah mendorong terbentuknya Kab. Bandung seperti sekarang. Dalam "Serat Piyagem" (Surat Keputusan) yang bertanggal "Ping Sanga Bulan Muharam Tahun Alip", Sultan Agung menetapkan Tumenggung Wirangun-angun sebagai Bupati atau Mantri Agung pertama. Sementara Tumenggung Wiradadaha menjadi Bupati Sukapura dan Tumenggung Tanubaya sebagai Bupati Parakanmuncang.

Dalam perhitungan masehi, Ping Sanga Bulan Muharam Tahun Alip tersebut bertepatan dengan tanggal 20 April 1641. Perhitungan itu diungkapkan salah seorang arsiparis Belanda bernama F. De Haan. Biasanya kata F. De Haan segala tindakan Raja Mataram terhadap daerah Priangan, selalu diberitahukan kepada Wedana Bupati dalam hal ini Pangeran Rangga Gede. Dalam Serat Piyagem itu, tidak disebut-sebut Rangga Gede atau Pembesar Mataram di Priangan. Jadi menurut F. De Haan tidak mungkin Serat Piyagem dibuat pada tahun 1633 Masehi.

Adapun pusat ibu kota Kab. Bandung, pada masa Tumenggung Wiraangun-angun berkuasa berada di daerah Krapyak, sebuah daerah yang tidak jauh dari aliran Sungai Citarum di seputar kawasan Dayeuhkolot sekarang. Dalam istilah Belanda, Dayeuhkolot disebut dengan nama Oude Negorij atau negeri lama. Nama Krapyak sendiri setelah menjadi pusat ibu kota Kab. Bandung berganti nama menjadi Citeureup.

Pada masa kekuasaan Mataram, daerah yang masuk ke wilayah Kab. Bandung meliputi Tatar Ukur yang terdiri Timbanganten, Gandasoli, Adirasa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo dan Ujungberung, Kuripan, Sagaraherang, sebagian Tanahmedang.

Jika dihitung sejak tanggal kelahiran 20 April 1641, maka pada tanggal 20 April 2011, usia Kab. Bandung sudah menginjak 370 tahun. 

Sebelum berkembang seperti sekarang, Kab. Bandung sempat mengalami beberapa masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan dalam bukunya "Perkembangan Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung (Dari Masa ke Masa)" yang disusun R.H. Lily Sumatri, H. Sulaeman Anggapraja dan H. Ahmad Syafei, membagi masa pemerintahan Kab. Bandung ke dalam beberapa periode, masing-masing Kab. Bandung masa Pajajaran, Pemerintahan Islam, Pemerintahan Sumedang Larang, Mataram (Sultan Agung dan Susuhunan Amangkurat I), Pemerintahan VOC, Pemerintahan Aria Cirebon, Pemerintahan Daendels, Pemerintahan Raffles, dan Pemerintahan Belanda tahun 1816-1942

Sejak tahun 1942 s.d. 1946, Kab. Bandung juga pernah mengalami masa penjajahan Jepang hingga meletusnya perang kemerdekaan. Suasana yang sangat tidak menyenangkan, terpaksa harus dialami oleh penduduk Kota Bandung dan Kabupaten Bandung akibat terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946. Kota Bandung khususnya Daerah Ciroyom, Tegallega, Cikudapateuh, Cicadas, sepanjang Oto Iskandardinata, Cibadak, Kopo, dan Babakan Ciamis pada malam itu berubah jadi lautan api.

Saat ini Kabupaten Bandung telah menjadi daerah yang mampu mempertahankan swasembada pangan. Di usianya yang ke-370 tahun, Kab. Bandung bertekad menjadi kabupaten yang maju, mandiri, dan berdaya saing. **

www.klik-galamedia.com/indexnews.php