Indonesia   |    English   

Bertanam Bambu di Banjaran

Desa Mekarjaya , kecamatan Banjaran dapat dicapai melalui jalan dari Bale Endah menuju ke Pengalengan, Kabupaten Bandung.  Memasuki  Kampung Pasirbungur, salah satu dusun di Desa Mekarjaya, terlihat bukit-bukit tandus dengan warna tanah kemerahan yang menjadi warna dominan.
“Bukit-bukit ini dulunya hutan, seperti itu” Kata Pak Aep Petani di Pasirbungur yang sudah tinggal sejak tahun 1950-an, menunjuk hutan lindung milik Perhutani yang berbatasan dengan Kampung Pasirbungur. “Lihat sekarang, yang rimbun hanya di puncak bukit itu, itu juga hanya sedikit” katanya. Menunjuk daerah rimbun di atas bukit yang sangat kontras dengan lahan kosong di sekelilingnya.

Perkenalan warga Pasirbungur dengan bambu adalah ketika Pak Sunardhi Yogantara atau yang sering dikenal sebagai Pak Yoga, ketua Warga Peduli Lingkungan, sebuah organisas komunitas yang bergerak di bidang lingkungan. Dari hasil pemetaan, diketahui bahwa luas lahan kritis di Desa Mekarjaya ini mencapai 25 hektar . Penanaman bambu ini setelah melakukan kajian dan pemetaan partisipatif bersama masyarakat. Selain sebagai penahan erosi, menstabilkan lahan dan menyimpan air, bambu juga dikenal memiliki nilai ekonomis tinggi yang dapat diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat desa.

Program penanaman bambu ini dilakukan pada tahun 2009 sebagai Pilot Demonstration Activities (PDA) yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB). Kegiatan dilakukan di  3 dusun di desa Mekarsari yaitu kampong Pasir Bungur, Pasir Salam dan Pasir Pendeuy. Bambu ditanam di daerah tangkapan air di sub-DAS Cisangkuy. Lahan kritis seluas 4 hektar yang digunakan untuk kegiatan ini adalah lahan carik atau lahan milik desa.

Persiapan program termasuk pendampingan dan pelatihan masyarakat dilakukan sejak Maret 2009. Pelatihan masyarakat ini pun dilakukan di lapangan sehingga disebut juga sebagai “Sekolah Lapang”.  Pada periode April hingga Oktober 2009, ada sekitar 6250 bambu yang ditanam di desa Mekarsari dan juga sekitar 17,000 rumpun vetiver. 

Dalam pemilihan jenis bambu dan penanamannya, kegiatan ini dibantu oleh Prof.Dr.Elizabeth Wijaya, ahli bambu dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Awalnya ada sekitar 6 jenis bambu yang dikembangkan, yaitu

  1. Bambu Gombong  (Gigantochloa Pseudoarundinacea).
  2. Bambu Tali (Gigantochloa Apus)
  3. Bambu Ater/Buluh (Gigantochloa Atter)
  4. Bambu Haur Hijau/Ampel  (Bambusa Vulgaris Schard)
  5. Bambu Haur Kuning dan 6. Bambu Pringandani.

Tapi kini ada 4 jenis bambu lagi yang juga ditanam di daerah ini. Penduduk menamakannya Bambu Hitam, Biung, Temen dan Tamiang.
“Kegunaan bambu ini macam-macam.” Kata Pak Enjang Caryana atau Pak Enjang, petani sekaligus kordinator kelompok petani. “Misalnya bambu Tamiang itu bisa dibuat untuk suling nantinya, bambu Temen dan Gembong untuk bangunan, sedangkan bambu Tali untuk dibuat anyaman”
Penanaman bambu dilakukan dengan jarak tanam sekitar 5 -6 meter. Untuk perawatannya pun tidak sulit.

“Kami juga membuat nursery untuk bermacam-macam jenis bambu ini” Kata Dian, fasilitator WPL yang hari itu mendampingi ke lapangan. “Kami juga membuat kolam tampung air. Sumber airnya menggunakan selang dari mata air di atas sana itu. Tujuannya untuk menyimpan air, terutama untuk musim kering”
Dian juga menunjukkan tanaman vetiver(akar wangi) yang sedang disiram. “Tanaman vetiver ini bagus untuk stabilisasi tanah, seperti yang Anda lihat, tanah disini tandus dan tidak stabil. Kita berharap vetiver ini cepat tumbuh sehingga akarnya dapat menahan erosi tanah yang menyebabkan longsor” Jelas Dian.

Selain kegiatan fasilitasi masyarakat dan kegiatan pelatihan kerajinan bambu yang akan dilakukan di bulan Mei 2010 ini, kegiatan rutin masyarakat Pasir Bungur adalah menyiangi tanaman hama dan membersihkan lahan.“Kami sebut “Rabuan” karena kegiatannya itu hampir setiap hari Rabu dan gotong royong” Kata Pak Enjang. Ada sekitar 110 KK di Pasir Bungur ini yang terlibat di dalam program penanaman bambu.

Meskipun hari itu hari Kamis, terlihat sekitar 10 petani sibuk membersihkan lahan. Dengan nyanyian bersahut-sahutan dan harumnya wangi ubi dan penganan tradisional yang disiapkan di saung bambu untuk disajikan ketika istirahat, sungguh menambah semangat pagi hari. Tanaman bambu yang masih berusia beberapa bulan itu masih belum dapat menutupi lahan-lahan gundul yang mudah dilihat di Desa Mekarsari. Demikian juga dengan tanaman vetiver yang terlihat berjajar di tepi-tepi tanggul tanah yang miring.

“Kami tahu bahwa bambu butuh waktu sekitar 3-4 tahun untuk tumbuh dan besar” Kata Pak Enjang. “selama masa itu, kami akan terus bertani sawah dan bertanam palawija untuk mencukupi kebutuhan keluarga”. Pak Enjang menunjukkan ke salah satu rimbunnya hutan bambu yang terdapat di dekat kampungnya. “Biasanya di dekat pohon bambu ada sumber air. Di sungai kecil itu rimbun dengan bambu. Kami berharap semoga air terus mengalir ke kampong ini dan lahan kritis akan hijau lagi” Kata Pak Enjang menutup perbincangan. (Diella Dachlan/Photo: Veronica Wijaya/Dok.Cita-Citarum)
 
 
Download: Bertanam Bambu di banjaran (PDF, 2 MB)
Untuk Artikel dan Laporan lengkap, silahkan download:  Dari Lahan Kritis Menjadi Lahan Ekonomis, PDF 16 M