Indonesia   |    English   

Vetiver, Rumput Pencegah Erosi

SEORANG warga melihat-lihat rumput vetiver yang dipamerkan pada acara Pelatihan Pengembangan Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Melalui Jaringan Kelompok Tani/Ternak di LM3 Pontren Nurul Huda, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (4/1).* ADE BAYU INDRA/"PR"

Wilayah Kab. Bandung Barat dikenal memiliki struktur tanah labil sehingga rentan terjadi pergerakan tanah. Tercatat lebih dari tiga kali dalam setahun peristiwa longsor ataupun erosi tanah terjadi di daerah ini.
Selama ini, bentuk pencegahan erosi dilakukan dengan reboisasi tanaman kayu. Namun, pernahkah mencoba menanami lereng rawan erosi dengan rumput?
Tentu saja bukan sembarang rumput. Rumput yang terkenal dapat menahan erosi adalah jenis vetiver (Vetiveria zizanioides) . Berdasarkan fisiologinya, rumput vetiver ini dapat menembus ke dalam tanah, mengikat tanah, dan mampu mengontrol urukan tanah. Bahkan, akar vetiver dalam tanah memiliki kekuatan daya rentang setara seperenam kekuatan baja ringan. Selain itu, rumput ini mampu menahan air yang menjadikannya tahan kondisi kering baik dalam suasana asin, asam, bahkan basa.
Juli 2009 lalu, sekelompok petani dari Desa Cikole bergabung bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat dan Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kab. Bandung Barat, melaksanakan program konservasi daerah aliran sungai (DAS) hulu Cikapundung. Sebanyak enam desa di Kec. Lembang yaitu Desa Cikole, Cibogo, Jayagiri, Langensari, Mekarwangi, dan Pagerwangi dilintasi oleh hulu Sungai Cikapundung yang memasok air baku hingga kelestariannya terjaga.
**
Dalam kegiatan konservasi itu, lahan seluas 250 hektare ditanami rumput vetiver di antara penanaman tumbuhan keras lainnya seperti nangka, alpukat, jambu, dan mangga. Kepala Seksi Produksi Tanaman Hias, Buah, dan Tanaman Obat Disbunhut Kab. Bandung Barat, Alit Rukmana mengatakan, lahan vetiver seluas itu dapat dimanfaatkan petani hortikultura karena mampu menjaga kesuburan tanah dengan menghasilkan air selain mencegah erosi. Tak hanya itu, lahan itu juga diperuntukkan bagi penggembala kambing untuk merumput agar timbul suksesi, dan vegetasi vetiver bisa terus tumbuh.
Salah seorang masyarakat yang membudidayakan rumput vetiver adalah Ridwan (27), warga Kp. Pondok, Desa Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat. Menurut dia, jika biasanya peternak itu menggunakan rumput gajah sebagai pakan, kini peternak menggantinya dengan menanam rumput vetiver. Menurut Ridwan, upaya ini dilakukan karena rumput gajah diketahui buruk untuk kesuburan tanah karena penyerapan airnya tinggi.
Ia menyebutkan, fungsi rumput vetiver yang bibitnya didatangkan dari Bali itu di antaranya mampu mengonservasi tanah dengan menyerap pencemaran air serta limbah cair. Bagi tanah, keberadaan vetiver mampu menurunkan kehilangan tanah 90 persen, mengurangi aliran permukaan air hujan 70 persen, serta meningkatkan hasil tangkapan air 50 persen.
Ridwan juga menjelaskan penanaman vetiver sangat mudah. Kendalanya hanya terletak pada kemauan petani untuk memelihara rumput agar tidak terus tumbuh tinggi. Secara kasat mata, anatomi vetiver tidak berbeda jauh dengan jenis rumput lainnya. Namun jangan salah, harga satu siung benih vetiver cukup mahal yaitu Rp 500,00. (Eva Fahas/"PR")***