Indonesia   |    English   

Tanaman Hias di Bantaran Sungai Cidurian

Bandung — Serupa dengan kebanyakan pemandangan bantaran anak-anak sungai lainnya yang mengalir melalui Kota Bandung, seruas Sungai Cidurian sepanjang 200 meter yang mengalir melalui RW 10, Sekemirung Kidul, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung tidak berbeda.

Jalan inspeksi di sisi sungai terbuat dari beton, tanggul tinggi dan tebing kirmir yang dibangun di sisi sungai untuk menahan longsoran. Yang paling familiar adalah pemandangan  sampah yang mengalun mengalir bersama aliran air. Demikian yang diingat sebagian besar warga RW 10, Sekemirung Kidul, Kelurahan Cigadung tentang lingkungan sekitarnya.  Di daerah ini, Sungai Cidurian menjadi batas wilayah antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Saat ini situasinya jauh berbeda. Meskipun lokasi ini tersembunyi di tengah padatnya permukiman kota Bandung di Kelurahan Cigadung, namun upaya warga RW 10 Sekemirung Kidul ini pelan-pelan terdengar oleh publik.

Seruas jalan di sisi Sungai Cidurian ini dengan panjang sekitar 200 meter, kini jauh lebih asri. Tanaman hias dibatasi pagar bambu memenuhi sisi sungai. Sebuah saung terbuat dari bambu didirikan di sisi sungai sebagai tempat berkumpul warga. Di dindingnya tertempel spanduk bertuliskan “Engkang-Engkang” Komunitas Cidurian Bersih.
“Engkang-Engkang adalah jenis serangga yang hanya mau hidup di air bersih. Jadi komunitas ini kita namakan Engkang-Engkang, biar Sungai Cidurian di sini bisa bersih kembali” Kata Agus Areng, warga dan penggiat komunitas di RW 10 Sekemirung Kidul (27/02/13).

Menyusuri Sungai Cidurian di daerah ini memberikan secercah harapan. Di bantaran sungai, warga menanam tanaman di pot-pot bunga dan polybag. Malah, di beberapa lokasi terdapat area yang khusus ditanami tanaman hias dan dijaga dengan batas bambu.

Endang, seorang warga yang rumahnya terkena luapan Sungai Cidurian jika terjadi banjir seperti Januari 2013 lalu menunjukkan pekarangan berupa seruas tanah yang ditanami berbagai tanaman hias.

“Almarhum suami saya sangat mencintai lingkungan disini. Beliau suka mengambil sampah dari sungai dan membuat himbauan agar tidak membuang sampah di sungai. Tanaman hias ini pun beliau yang mulai dulunya, dan sekarang saya bersama yang rawat” kata Endang.

Bukan hanya tanaman hias, di RW 10 ini warga juga menanam tanaman lainnya seperti Jahe merah, daun bawang, cabe, tomat, kangkung, sawi, seledri dan pohon kari (Temuruy).

“Kelompok ibu-ibu di sini juga sudah pernah panen, sebagian dibagikan dan sisanya dijual ke tukang sayur dengan harga mengikuti pasaran” kata Dian Nurliani, warga RW 10 Sekemirung Kidul yang juga merupakan ketua kelompok tani perempuan.


Endang (kiri) dan Dian Nurliani, penggiat lingkungan di RW 10 Sekemirung Kidul (27/02/13)

Demikian pula dengan tanaman hias yang ada di lingkungan ini. Kadang warga sendiri yang membelinya, tetapi tak jarang juga warga dari luar datang ke tempat ini untuk membeli tanaman hias. Tak hanya tanaman, kini warga RW 10 melalui kelompok-kelompok masyarakat kini membiakkan ikan lele yang dipelihara bersama-sama sejak Januari 2013 lalu.

RW 10 Sekemirung Kidul ini merupakan salah satu daerah dampingan program Bandung Green and Clean (BGC). Program ini berbasis kemasyarakatan untuk mengelola sampah secara mandiri di tingkat rumah tangga dan lingkungan sekitar (tingkat RT/RW). Program yang dimulai sejak tahun 2009 ini merupakan kemitraan antara Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Lembaga Penerapan Teknologi Tepat Guna (LPPT), Harian Pikiran Rakyat, Radio Rase FM dan PT Unilever.


Salah satu lokasi budidaya tanaman hias warga RW 10 Sekemirung Kidul, Kelurahan Cigadung,
Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung 
(27/02/13)

Sejak tahun 2009 lalu, pembudidayaan tanaman hias di RW 10 Sekemirung Kidul ini sudah dilakukan. Awalnya dilakukan oleh Agus Amin yang dulu menjabat sebagai ketua RW 10 ikut mendaftarkan daerahnya ke dalam program ini. RW 10 Sekemirung Kidul ini memiliki 600 KK atau sekitar 600 jiwa. Sekitar 100 warganya lantas terlibat.

Rata-rata anggota kelompoknya adalah pasangan suami istri yang tinggal di daerah ini, ditambah dengan para pemuda yang aktif terlibat dalam karang taruna. Bibit tanaman didapatkan pula dari bantuan Pemerintah Kota Bandung. Selain bibit tanaman, di RW ini tampak terdapat unit kamar mandi umum bantuan pemerintah Kota Bandung yang digunakan dan dipelihara bersama-sama warga.

Kerja keras bersama ini tidak sia-sia. Pada tahun 2012 lalu, RW 10 Sekemirung Kidul mendapatkan penghargaan Juara Harapan 1 BGC untuk kategori Permukiman Padat di Kota Bandung.

Masalah Sampah

Diakui oleh Agus Areng, salah seorang warga yang aktif dalam kegiatan ini, bahwa sampah hingga kini masih menjadi masalah. “Dulu warga membuang sampah langsung ke sungai. Namun, Alhamdulillah, saat ini rata-rata sudah sadar. Sampah dikumpulkan bersama di titik-titik yang ditentukan, dan secara teratur akan diambil oleh tukang sampah seminggu tiga kali. Iuran kebersihan dibayarkan warga, yaitu Rp 3,000,-/bulan untuk setiap KK”, kata Agus Areng.

Menurut Priyo, staf program BGC, di RW-RW lain pengolahan sampah sudah dilakukan, dari pemilahan sampah hingga ada warga yang membuat bank sampah. Namun di RW 10 Sekemirung Kidul, hal ini nampaknya masih butuh proses. Ada warga yang sudah melakukan pengolahan sampah di rumah-rumah, namun pengolahan ini belum sampai ke tingkat pengolahan bersama di tingkat RW.

“Tetapi dengan kemajuan warga yang berinisiatif menghijaukan bantaran sungai Cidurian dengan tanaman produktif, hal ini sudah sangat perlu kita apresiasi”, imbuh Priyo. Sejak tahun 2009 hingga 2013 ini, BGC mendampingi 619 RW tersebar di 151 kelurahan dan 30 kecamatan di Kota Bandung.

Teks dan foto: Diella Dachlan/Dok.Cita-Citarum