Memuliakan Air Lewat Kearifan Lokal
Dengan baju hitam-hitam dan kopiah hitam, sekilas Mamat, 45 tahun, warga Desa Ciater, lebih mirip seperti kuncen (juru kunci) taman air Cikahuripan daripada petani. Namun sehari-hari Mamat adalah petani yang mengolah sekitar 2 hektar sawahnya yang baru ditanami padi dengan metode SRI, bantuan dari Kementerian dan Dinas Pertanian.
Hari itu (19/7/12), Pak Mamat mengajak kami untuk menengok sumber air di Karomat Taman Cikahuripan, mata air yang menjadi tempat “keramat” bagi warga sekitar dan bagi pengunjung dari luar.
“Alhamdulillah, air disini tidak pernah kering meskipun musim kering seperti sekarang ini” Kata Pak Mamat. Berada di kawasan seluas sekitar 3,000 meter yang ditanami hutan bambu jangkung setinggi lebih dari 8 meter itu pada siang hari itu membuat teriknya matahari tidak berasa.
Menurut Pak Mamat, bukan hanya warga setempat yang sehari-harinya menggunakan air untuk mandi dan berdoa di tempat itu, melainkan warga di luar desa. Terutama pada waktu-waktu tertentu seperti sebelum bulan puasa dan setelah lebaran. Tak jarang pengunjung bermalam di tempat itu. Sehingga sebuah balai-balai sederhana dari bambu dibangun dibawah teduhnya pohon bambu disediakan bagi siapapun yang ingin berdoa dan mencari keheningan.

Ada dua bilik berisi bak air yang ditutupi oleh selembar kain putih bagi mereka yang ingin mandi dengan “air keramat”. Sementara menurut Pak Mamat, air memang barang keramat.
“Bayangkan, kalau kita hidup tanpa air, bukankah itu suatu bencana?” Ujar Pak Mamat. “Kami memiliki larangan untuk menebang pohon bambu di kawasan ini, siapapun yang melanggarnya akan dikenakan sangsi” Tegas Pak Mamat. Beliau percaya kalau dimana banyak rumpun bamboo, maka disitulah akan mudah ditemukan mata air. Karena alasan itu pula, Pak Mamat dan warga Desa Ciater sangat menjaga kawasan ini.
Tepat di atas kawasan kecil hutan bambu itu terdapat perumahan yang baru dibuka, hal itu tak luput menjadi kekhawatiran Pak Mamat beserta para petani lainnya. “Kami kuatir kalau sumber air disini berkurang karena seharusnya di perbukitan seperti itu kan tempatnya hutan, bukannya bangunan” Kata Ujang.
Ada beberapa mata air yang letaknya dekat dengan persawahan milik warga Desa Ciater. Pak Mamat dan Pak Ujang dengan bersemangat menunjukkan salah satunya.
“Lihat, musim kering begini saja, airnya banyak dan sangat jernih, bisa langsung diminum” Kata Pak Mamat. Dengan tangan, beliau menyingkirkan semak-semak yang menutupi mata air yang keluar dari perut bumi.

Menurut Nana Supriana, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Ciater , karena kekhawatiran akan langkanya sumber air, petani dan warga desa Ciater mencari sumber air baru, berjalan naik turun bukit berkilo-kilometer.
“Hal ini menunjukkan betapa pentingnya air bagi kehidupan kita. Sebenarnya kalau kearifan lokal menjaga sumber air terus dipertahankan seperti yang ada di desa Ciater ini dan di budaya Sunda pada umumnya yang makin lama makin ditinggalkan, tentu sumber air kita akan terjaga” Kata Nana.
Dan dengan kearifan menjaga sumber air yang merupakan kehidupan ini, masyarakat Jawa Barat tidak lagi perlu melihat anak-anak sungai yang kotor dipenuhi oleh sampah, dan Sungai Citarum mungkin tidak perlu menjadi sekotor sekarang.
Sumber air akan tetap lestari, dan air adalah sumber kehidupan. Menjaga sumber air adalah jalan untuk menjaga kelangsungan kehidupan bagi mahluk hidup.
Tulisan ini merupakan bagian dari Laporan Foto
Melihat Jejak Dewi SRI di Subang, PDF 10 MB


