Indonesia   |    English   

Limbah Industri Cemari Sungai Citarum

Didit Ernanto | Sabtu, 30 Juni 2012

http://www.shnews.co/detile-4043-limbah-industri-cemari-sungai-citarum-....

BANDUNG – Limbah industri di kawasan Majalaya Kabupaten Bandung mencemari Sungai Citarum. Limbah tersebut dibuang melalui selokan yang bermuara di Sungai Citarum.

Salah satunya adalah selokan Sasak Bejo yang membentang di kampung Balekambang Majalaya. Kondisi selokan yang berwarna hitam dan bau menyengat yang berasal dari limbah industri yang ada di sekitarnya.

"Limbah industri di Majalaya yang dibuang ke selokan jelas merugikan warga. Selokan dan anak Sungai Citarum biasanya dipergunakan untuk mengairi sawah," kata Ketua Komunitas Elemen Lingkungan Jabar, Deni Riswandani, di Bandung, Jumat (29/6).

Selokan maupun anak Sungai Citarum yang tercemar limbah memang masih dimanfaatkan petani. Namun, hasil panennya secara kualitas tidak bagus. Terkadang, hasil panen tidak ada butiran padi sehingga merugikan petani.

Menurut catatan Deni, di Kecamatan Majalaya terdapat sekitar 174 industri yang mayoritas adalah industri tekstil. Deni menyatakan ada sekitar 139 industri yang menghasilkan limbah berbahaya. Pembuangan limbah di selokan maupun anak sungai yang bermuara di Sungai Citarum sudah terjadi sejak 1980-an.

"Tapi, sampai sekarang penegakan hukum belum optimal, meski berulang kali kami mengadu ke pemerintah," katanya.

Limbah yang dibuang industri di Majalaya ini bahkan merembes ke sumur-sumur resapan milik warga. Sumur yang ada ikut berwarna hitam dan berbau sehingga tidak dapat dipergunakan.

Jajang, salah seorang warga Kampung Balekambang, menuturkan sumur yang tercemar tidak dapat lagi dipergunakan untuk mandi maupun kebutuhan air minum. "Kalau dipakai mandi jelas membuat gatal," Jajang menimpali.

Tak hanya masyarakat yang dirugikan, tercemarnya Sungai Citarum mengancam kelangsungan Waduk Saguling. Limbah yang memiliki kandungan kimia tinggi menimbulkan korosi di PLTA Saguling.

General Manager Waduk Saguling PT Indonesia Power Eri Prabowo mengatakan perawatan mesin PLTA Saguling kini harus dilakukan setahun sekali dengan biaya hingga Rp 1 miliar. Jika kondisi Sungai Citarum tak tercemar limbah maka perawatan bisa dilakukan tiga tahun sekali.

Selain limbah, warga juga mengkhawatirkan sedimentasi. "Sedimentasi di Sungai Citarum 4,2 juta kubik setiap tahun, sedangkan yang masuk ke Waduk Saguling rata-rata 650 kubik setiap detik," katanya.

Sedimentasi ini membuat umur waduk yang dioperasikan tahun 1985 ini berkurang. Secara ekonomis Waduk Saguling berikut PLTA yang dioperasikan bisa berumur hingga 59 tahun.

"Tapi dalam keadaan sedimentasi yang sangat tinggi, umur waduk berkurang delapan tahun," tutur Kabid Komunikasi Korporat PT Indonesia Power, Luthfi Hanie. Tak hanya sedimentasi, sampah yang rata-rata mencapai 10 ton setiap hari juga mengancam kelangsungan Waduk Saguling.

Jika kondisi waduk semakin tidak baik berpengaruh terhadap kelangsungan operasi PLTA Saguling. Saat ini PLTA Saguling mampu menghasilkan listrik hingga 2.764 giga watt hour.
(Sinar Harapan)