Indonesia   |    English   

Studi Pengelolaan Bendungan dan Irigasi di Citarum

Purwakarta. Mengunjungi Waduk Ir.H.Juanda atau Jatiluhur di Purwakarta merupakan salah satu agenda rangkaian sepekan kunjungan delegasi Nigeria ke Indonesia.

Sebelas anggota rombongan Training of Nigerian Experts and Technicians on Small Scale Dams and Irrigation Networks in Indonesia terdiri dari perwakilan dari berbagai instansi pemerintah Nigeria,  antara lain Kementerian Sumber Daya Air, Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan serta perwakilan dari kantor Wakil Presiden Nigeria.

 

 

Keterangan foto: Bendungan Ir.H.Juanda merupakan bendungan terbesar di Wilayah Sungai Citarum.

Dalam kunjungan ke Waduk Ir.H.Juanda (14/6/12), rombongan diterima oleh perwakilan Pemerintah Indonesia dari Bappenas dan Kementerian Pekerjaan Umum di Graha Vidya, Jatiluhur yang merupakan wilayah kerja Perum Jasa Tirta II (PJT II).

Keterangan foto: Sesi presentasi di pagi hari.
Direktur Utama PJT II Edi A Djajadiredja turut serta menyambut rombongan delegasi.

 

Paparan mengenai Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai Citarum disampaikan oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Dr.A.Hasanudin, ME, “Problematika di Wilayah Sungai Citarum ini sudah sedemikian kompleks, hingga tidak lagi bisa dilakukan secara terpisah-pisah. Karena itu, kini Pemerintah Indonesia mulai menerapkan pendekatan terpadu untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai Citarum  yang  melibatkan multi-stakeholders baik instansi pemerintah, swasta hingga masyarakat” Kata Hasanudin dalam paparannya.

Hasanudin menyebutkan, dalam Rencana Terpadu Penanganan Wilayah Sungai Citarum dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai donor dan program, antara lain Integrated Citarum Water Resources Management and Investment Program (ICWRMIP) yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB).
Program lainnya antara lain Jatiluhur Irrigation Management Improvement (WISMP II), serta Jatiluhur Dam Operation and Safety yang didanai oleh World Bank, dan Upper Citarum Basin Flood Control, yang didanai oleh Jepang melalui JICA.

Sedangkan tiga bendungan besar dan operatornya di Wilayah Sungai Citarum yaitu Saguling (1985) oleh Indonesia Power, Cirata (1988) oleh Pembangkit Jawa Bali dan Ir.H.Juanda (1967) oleh PJT II.

“Suplai air dari Bendungan Jatiluhur mencapai 90,000 liter/detik-nya. Suplai irigasi dari bendungan Ir.H.Juanda ini dialirkan melalui kanal Tarum Barat, Timur dan Utara.  Dari kanal-kanal ini pun, aliran air disuplai untuk berbagai kebutuhan, termasuk suplai air baku ke Jakarta (sebanyak 16 m3/liter) dan untuk kebutuhan industry di Bekasi, Karawang, Purwakarta dan Subang” Kata Herman Idrus, Direktur Pengelolaan Air PJT II dalam paparannya yang berjudul Operasional bendungan di Wilayah Sungai Citarum.

 

 

Di Bendungan Ir.H.Juanda, rombongan delegasi Nigeria diajak untuk melihat ruang turbin untuk mengoperasikan waduk. Selain itu, rombongan juga mengunjungi Bendung Curug, Karawang, untuk melihat pompa elevasi untuk memompa air dari bendungan untuk kemudian mengalir melalui kanal-kanal Tarum.
Selanjutnya rombongan delegasi mengunjungi area persawahan di Ciganea, daerah seputar Bendungan Ir.H.Juanda.

Keterangan foto: Andrijanto Djali dari PJT II menerangkan mekanisme cara kerja Bendung Curug

 

 

Maryam Rebiu, anggota delegasi dari kantor Wakil Presiden Nigeria serta Toyin Alonge dari Kementerian Keuangan Nigeria terlihat antusias dengan cara tanam padi tradisional petani Indonesia. Apakah petani menggunakan traktor tangan? Apakah petani masih menggunakan kerbau? Berapa lama padi ini ditanam? Apakah air sawah ini datang dari bendungan besar itu?, demikian pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan kedua anggota delegasi itu kepada para petani.

“Saya terkesan di negara Anda sudah menerapkan pendekatan terpadu lintas sektor dan multi-stakeholders, pendekatan ini sangat baik” kata Abdullah Adamu, anggota delegasi dari Kementerian Sumber Daya Air.

 

 

Dalam agenda kunjungan kerja, selain mengunjungi Jakarta dan Purwakarta, rombongan delegasi juga akan mengunjungi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali.
“Kami berharap agar kunjungan singkat ini dapat menjadi kesempatan saling belajar dan bertukar pengalaman amsing-masing. Semoga kerjasama Indonesia dan Nigeria dapat terus berlanjut dan dapat ditingkatkan dalam masa depan” kata Zaenal Arifin dari Program Koordinator  Pengembangan Luar Negeri Multiteral Bappenas.

Teks dan foto: Diella Dachlan