Indonesia   |    English   

Derita Air Limbah Sungai Citarum

Dirilis oleh Rudy sanjaya pada Sabtu, 10 Mar 2012
Telah dibaca 211 kali

http://www.tarungnews.com/fullpost/berita-foto/1331381430/derita-air-lim...

Citarum Harusnya Bisa Diandalkan untuk Air Minum, Listrik, Perikanan, dan Irigasi

Percemaran dan sedimentasi terjadi mulai dari hulu sungai di Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Kertasari Kab.Bandung. Aliran sungai ini melewati perkampungan padat Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung, yang sebagian besar penduduknya merupakan petani sayur dan peternak sapi perah. ”Kawasan perbukitan dan DAS hulu sungai beralih fungsi menjadi perkebunan, belum lagi masyarakat peternak sapi perah di desa Tarumajaya membuang kotoran sapinya langsung ke sungai, yang menjadikan air sungai sudah tercemar sejak dari hulu, dan masuk kekawasan Majalaya tidak sedikit pabrik yang tidak memiliki pengolahan air hingga tingkat pencemaran air Citarum semakin tinggi,” ujar Yogantara.

Ir. Prima Mayaningtyas. MSi Kabid Tata Kelola BPLHD Jabar

Lintas Jabar,TarungNews - Julukan Sungai Terjorok di Dunia yang dimuat di koran The Sun pada 2010 dan Sungai Panjang Terkotor oleh kantor berita CNN pada 2011 memang layak disematkan Sungai Citarum. Hampir sepanjang 297 kilometer mulai dari hulu sungai di Kertasari Kab. Bandung hingga bermuara di Pantai Muara Merdeka, Muara Gembong Kab. Bekasi, eksploitasi disertai pengrusakan tanpa batas terus dilakukan terhadap Sungai Citarum.

“Kita seakan tidak menyadari terhadap keberadaan Sungai Citarum yang sebelum mengalir ke Laut Jawa, sungai terbesar dan terpanjang di Jabar ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Waduk Saguling yang menghasilkan 700-1.400 megawatt, WadukWaduk Cirata (1.008 MW), dan Waduk Jatiluhur (187 MW). Ketiga PLTA itu memasok listrik untuk jaringan interkoneksi Pulau Jawa-Bali yang dihuni hampir separuh dari penduduk negeri ini, tapi ketergantungan akan air dari Sungai Citarum belum sepenuhnya menyadarkan kita untuk memelihara keberadaan Sungai Citarum,” ujar Sunardi Yogantara, sesepuh dan pendiri Warga Peduli Lingkungan Sungai Citarum.

Dikatakan Yogantara, yang juga Aktivis Pemberdaya Masyarakat untuk Membangun Inisiatif Masyarakat Mandiri, selain menjadi sumber utama pemasok air bagi tiga PLTA di Jabar, Sungai Citarum juga sebagai pemasok bahan baku air minum bagi 25 juta warha Jawa Barat dan DKI Jakarta. Air Citarum yang tercemar juga digunakan untuk perikanan dan irigasi di 420.000 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, serta lumbung padi nasional di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu.

Percemaran dan sedimentasi terjadi mulai dari hulu sungai di Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Kertasari Kab.Bandung. Aliran sungai ini melewati perkampungan padat Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung, yang sebagian besar penduduknya merupakan petani sayur dan peternak sapi perah. ”Kawasan perbukitan dan DAS hulu sungai beralih fungsi menjadi perkebunan, belum lagi masyarakat peternak sapi perah di desa Tarumajaya membuang kotoran sapinya langsung ke sungai, yang menjadikan air sungai sudah tercemar sejak dari hulu, dan masuk kekawasan Majalaya tidak sedikit pabrik yang tidak memiliki pengolahan air hingga tingkat pencemaran air Citarum semakin tinggi,” ujar Yogantara.

Terhadap kondisi Sungai Citarum yang dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan pencemaran serta kerusakan, Yogantara berharap ada upaya nyata dari semua pihak untuk menyelamatakan sungai Citarum. Bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari segenap elemen masyarakat dan upaya nyata tersebut jangan hanya sekedar program tanpa kelanjutan dan berkesenimbangun. “Seperti yang selama ini dilaksanakan, kalau ada anggaran baru dilaksanakan, kalau tidak ada yang berhenti,” ujar Yogantara. Agak ketus.

BPLHD Provinsi Jawa Barat melakukan koordinasi dengan Kabupaten/ Kota, namun BPLHD Provinsi dapat juga melaksanakan pengawasan secara langsung ke industri karena adanya pengaduan masyarakat langsung ke BPLHD Jabar, dan ini tentunya dilaksanakan bersama-sama dengan Kabupaten/ Kota setempat.

Hasil penelitian BPLHD Jabar di sungai Citarum, khusus di wilayah Kabupaten Bandung, untuk mengetahui kadar air yang dikandung oleh sungai Citarum, berdasarkan hasil pemantauan terhadap kualitas air Sungai Citarum yang dilaksanakan pada 10 lokasi titik pantau, yang merupakan Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung sebanyak 7 stasiun titik pantau yaitu Wangisagara, Majalaya, Sapan, Cijeruk, Dayeuh Kolot, Burujul dan Nanjung.

Setelah dievaluasi dengan metode Indeks pencemaran di semua lokasi pemantauan status mutunya bervariasi mulai dari cemar ringan (B), cemar sedang (C) sampai cemar berat (D).

Menurut, Ir. Prima Mayaningtyas MSi, Kepala Bidang Tata Kelola Air BPLHD Jabar, sampai saat ini belum pernah ada BAP ( Berita Acara Pelaporan ) masalah pelanggaran AMDAL, karena Amdal hanya merupakan salah satu persyaratan untuk keluarnya izin lingkungan sebagaimana ketentuan dalam UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. BAP bisa dilakukan jika terdapat pelanggaran terhadap izin lingkungan.

Program BPLHD Jabar pada Tahun 2012 ini terhadap Sungai Citarum yaitu :

    Pemantauan pencemaran di Sungai Citarum;
    Memfasilitasi penyelesaian kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan di Jawa Barat;
    Penyuluhan lingkungan untuk perlindungan dan pengelolaan DAS Citarum;
    Model Penanganan Lingkungan Hulu DAS Cikapundung.

Dilihat dari indikator sasaran penurunan status mutu sungai Citarum dari cemar berat ke ringan, pada tahun 2011 Sungai Citarum masih cemar berat tapi menuju ke cemar ringan. Target di Tahun 2012 terhadap Sungai Citarum oleh BPLHD sendiri adalah peningkatkan kualitas Sungai Citarum dari cemar berat menjadi cemar sedang bahkan memenuhi baku mutu kualitas air sungai. Namun hasil penelitian BPLHD Jabar, tersebut sungguh sangat berbeda dengan realita yang ada dilapangan bahkan bisa di bilang “ Jauh Panggang Dari Api “ kondisi sungai Citarum tetap tercemar berat dan sangat memprihatinkan.

Lain halnya yang di katakan Drs. H. Eka Santosa (Ketua Forum DAS Citarum Wilyah Jawa Barat)

Sungai Citarum sudah tercemar berat, keadaannya sudah sangat buruk sekali. Dan saat ini kami sedang mengumpulkan seluruh pengguna air Citarum dan akan mengintegrasikan seluruh persoalan Citarum dalam waktu dekat. Triliunan Rupiah sudah mengalir untuk Citarum dan itu saya sangat prihatin. Kami akan bekerja keras untuk menghimpun seluruh persoalannya dan mendesak penyelesaiannya. Memang benar 30% Konservasi harus dipenuhi oleh Propinsi Jawa Barat.

Kita akan melakukan investigasi dengan masalah tersebut

Seharusnya BAPPENAS membuat perencanaan yang benar-benar bisa membuat penyelesaian tersebut diatas karena sudah didukung dana yang sangat besar, kata Eka.

Koordinator Wilayah Forum DAS Citarum Jawa Barat Eka Santosa akan mencanangkan gerakan rehabilitasi dan konservasi di sub daerah aliran sungai (DAS) Citarum seperti di Sungai Cikapundung yang melintasi Kab. Bandung Barat dan Kota Bandung dan agenda forum ke depan akan berdiskusi bersama masyarakat sekitar sungai mengenai tiga program yang akan dibuat a.l. rehabilitasi dan konservasi sungai, pemberdayan masyarakat sekitar sungai, dan advokasi.

Menurut dia, salah satu bentuk rehabilitasi itu pihaknya akan mengambil tindakan tegas bagi industri yang membuang limbah B3 tanpa diolah terlebih dahulu ke Sungai Citarum. Pencemaran lingkungan sama dengan tindakan terorisme karena mengancam generasi kedepannya

Tidak kurang dari 1.400 industri di bantaran Sungai Citarum mulai dari Kota Bandung hingga Bekasi yang memanfaatkan Sungai Citarum. Dan diantara mereka masih ada industri yang secara bebas membuang limbah ke Citarum," ucap Eka kepada wartawan seusai acara Pengukuhan Pengurus Forum DAS Citarum Kota Bandung di Cicabe, Kecamatan Mandalajati, Senin (21-2-2012).

Saat ini pihaknya telah merekrut tim di 10 kab./kota di Jabar untuk turut serta pada forum DAS Citarum. "Seluruhnya ada 12 kabupaten dan kota di Jabar yang dilintasi Sungai Citarum. Kita tinggal menunggu SK untuk Kab. Karawang dan Sumedang. Untuk mengatasi masalah tersebut, dia akan merangkul pihak-pihak yang memanfaatkan Sungai Citarum seperti Indonesia Power, PLN, dan perusahaan-perusahaan, serta industri lainnya untuk sama-sama memperbaiki DAS Citarum.

Menteri Pekerjaan Umum ( PU ) Djoko Kirmanto mengatakan pengerjaan pengerukan Sungai Citarum telah menelan biaya Rp1,3 triliun.  Proyek tersebut, menurutnya, bertujuan melancarkan air serta mengurangi banjir yang kerap melanda kawasan Citarum. Kami targetkan 2013 dapat selesai. Persiapan pengerukan memang baru beres saat musim hujan ini namun Januari tahun depan kemarau, sehingga bisa berlanjut.

Sebenarnya tidak ada yang bisa menjamin banjir tidak akan datang lagi, tetapi ini bisa mengurangi, katanya seusai pencanangan penggalian pertama rehabilitasi pengendalian banjir Sungai Citarum di Bale Endah Kabupaten Bandung. Menurut dia, roadmap pengendalian banjir Sungai Citarum tersebut sudah berjalan sejak 2008.  Jika menginginkan hasil sempurna, pasti membutuhkan waktu yang lama.

Kalau ingin sempurna termasuk untuk penghijauan dan konservasinya butuh waktu sampai 15 tahun. Dalam roadmap, kita butuh anggaran sebanyak Rp35 triliun atau artinya setiap tahun rata-rata butuh Rp2,1 triliun.

Dia berharap dana selama 15 tahun tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah daerah atau Kementerian PU, tetapi juga para stakeholder lainnya.

** Rudy Sanjaya / Redaksi,TarungNews.Com **