Mengapa SRI?
Menyeimbangkan antara pemenuhan produksi pangan dalam negeri untuk 237 juta jiwa penduduk Indonesia dengan budidaya pertanian berproduksi tinggi, minim serangan hama serta tetap menerapkan pola pertanian ramah lingkungan, adalah pemikiran dan upaya yang dilakukan terus menerus.
Tantangan lain yang dihadapi umumnya pada pertanian di Indonesia yaitu lajunya penurunan lahan yang setiap tahunnya mencapai sekitar 2,8 juta hektar/tahun. Tingkat alih fungsi lahan pun terus terjadi dan meningkat setiap tahunnya, yaitu sekitar 110,000 hektar/tahun (Data Kementerian Pertanian, 2011). Belum lagi pola penanaman yang menggunakan bahan-bahan kimia mengakibatkan penurunan kesuburan tanah dalam jangka panjang dan kelangkaan air, hal ini menjadi permasalahan dan tantangan bagi pengembangan pertanian.
Dalam satu dasawarsa terakhir, para petani Indonesia mulai mengenal metode penanaman padi SRI atau System of Rice Intensification. Metode ini merupakan teknik budidaya padi yang mengubah cara penanaman, pengelolaan tanah, air dan unsur hara yang ada dalam tanah.
Metode SRI dikembangkan oleh Fr. Henri de Laulanié, S.J bersama petani lokal di Madagascar sekitar tahun 1983. Karena SRI ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi dan diminati oleh petani pada umumnya, maka sejak tahun 1999 pengembangan SRI mulai dilakukan di luar Madagascar, dengan bantuan Cornel International Institute for Food and Agriculture Development (CIIFAD) khususnya Profesor Norman Uphoff.
Di Indonesia sendiri, pengembangan SRI pertama diujicobakan dan dikembangkan di desa Budiasih, Kabupaten Ciamis Jawa Barat, pada periode 2002-2007. Sejak saat tersebut, penanaman padi dengan metode SRI terus berkembangluas, baik di Propinsi Jawa Barat dan propinsi lainnya di Indonesia.
Metode SRI ada tiga macam yaitu organik penuh, semi organik dan non-organik, yang menggunakan atau tidak menggunakan pupuk kimia.
Perbedaan utama metode SRI dengan metode konvensional adalah cara tanamnya. Metode SRI menanam satu bibit dalam satu lubang dengan jarak penanaman yang cukup lebar, yaitu minimal 25cm x 25 cm. Hal ini berbeda dengan metode konvensional yang menanam 5 bahkan 10 bibit dalam satu lubang dengan jarak tanam yang lebih berdekatan.
Dari berbagai hasil penelitian, ternyata perubahan cara tanam ini dapat meningkatkan hasil produksi sekaligus dapat menghemat benih dan juga yang tak kalah penting: hemat air.

Produksi Meningkat, Air Lebih Hemat
Di Propinsi Jawa Barat, sebagian besar lahan pertanian di Jawa Barat menggunakan saluran irigasi yang sumber airnya berasal dari Sungai Citarum. Hal ini tidak mengherankan, karena dengan panjang 297 kilometer, Sungai Citarum melewati 9 kabupaten dan 3 kota di Propinsi Jawa Barat dan merupakan sungai terbesar dan terpanjang di propinsi ini. Total area irigasi pertanian yaitu sekitar 420,000 hektar, yang sumber airnya sebagian besar berasal dari Sungai Citarum.
Dengan pertumbuhan penduduk yang amat pesat di Propinsi Jawa Barat (data statistik tahun 2009 menyebutkan populasi penduduk Jawa Barat mencapai 41,483,729 jiwa), maka kebutuhan akan sumber air, pangan dan ruang juga ikut meningkat. Karenanya diperlukan strategi dan inovasi didalam menghadapi tantangan ini.
Dalam bidang pertanian padi, metode SRI yang dinilai dapat menghemat air, merupakan salah satu alternatif solusi. Sebagai ilustrasi saja, dalam metode penanaman padi konvensional, kebutuhan air per hektarnya adalah sekitar 4,8 juta liter. Sedangkan dalam metode penanaman padi SRI, kebutuhan air per hektarnya adalah 2,4 juta liter. Atau hemat sekitar 50 persen.
Sebagai contoh, jika metode SRI diterapkan secara luas di daerah sentra produksi padi seperti Kabupaten Karawang, yang luas areal pertaniannya sekitar 94, 311 hektar, maka sudah berapa juta liter air yang dapat dihemat?
Produktivitas padi dengan metode SRI juga lebih tinggi, meskipun hasilnya berbeda-beda pada tiap-tiap daerah. Di Karawang misalnya, hasil panen padi metode konvensional adalah 5 juta ton/ hektar, sedangkan panen padi dengan metode SRI adalah sekitar 7,5 juta ton/hektar. (Data Kementerian Pertanian Maret 2011)
Keunggulan lainnya adalah penanaman padi metode SRI organik penuh yang menggunakan pupuk alami dan pestisida nabati, maka unsur hara tanah dapat mengalami perbaikan. Hal ini merupakan alternatif yang baik bagi lahan-lahan pertanian intensif yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia selama bertahun-tahun, untuk mengejar peningkatan hasil panen.

Tantangan SRI
Meskipun terdengar sangat ideal, metode SRI pun tidak lepas dari tantangannya. Kelemahan SRI antara lain akan perlu waktu untuk merubah cara pandang petani beralih dari budidaya konvensional ke SRI.
Dalam metode SRI organik, tantangan hama yang umumnya dihadapi petani antara lain keong, tikus dan gulma, serta permasalahan hama berbeda dari satu lokasi dengan lokasi lainnya, sehingga membutuhkan waktu, biaya dan upaya yang tidak sedikit untuk mencari penyelesaiannya.
SRI organik membutuhkan pupuk alami, dimana ketersediaan bahan kompos untuk pupuk terbatas dan membutuhkan waktu, tenaga dan biaya untuk melakukan pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik. Selain itu pasar beras SRI masih relatif terbatas, dengan harga yang relatif lebih tinggi.
Pengembangan padi SRI juga akan lebih efektif jika dilakukan di daerah-daerah yang petaninya adalah petani padi dan bukan petani dari komoditas lain, dengan mengikuti karakteristik daerah setempat.
Budidaya SRI membutuhkan sarana irigasi, karenanya pengembangan SRI akan dapat lebih berkembang di daerah-daerah yang sudah tersedia jaringan irigasi. Sertifikasi SRI, khususnya organik juga sangat penting, karena hal ini akan dapat meningkatkan standar mutu, harga dan dapat membuka peluang ekspor beras ke luar negeri.
Karenanya, jalan untuk mengembangkan metode SRI di Indonesia ini masih panjang prosesnya. Perlu terus dilakukan pengembangan, studi dan penelitian, sosialisasi dan pendampingan untuk para petani, baik dalam budidayanya maupun pemasarannya.
Penulis: Diella Dachlan, Nancy Rosmarini/ Foto: Ng Swan Ti/Doc.Cita-Citarum
Artikel ini merupakan bagian dari Laporan Foto
Produksi Padi Meningkat, Air Lebih Hemat
http://www.citarum.org/upload/knowledge/document/SRI_Produksi_Padi_Menin...


